Marry your Best Friend

holding-hands

Semalam dalam penerbangan Riyadh – Cairo, gue melayani pasangan manula yang duduk di Business Class. Si kakek menyantap makanan penutup berupa kue dan buah sambil tertawa kecil dan membisikkan sesuatu ke nenek cantik di sebelahnya.

Penasaran, gue pun menghampiri mereka berdua. Barangkali mereka perlu segelas air, secangkir teh atau kopi. 

“Sir, would you like another glass of water or anything else?”

“No, I’m okay. Hehehe,” dia masih tertawa kecil.

Gue tersenyum melihat mereka. Nenek cantik di sebelahnya memegang sendok kecil dan menyuapi si kakek sepotong kue dari piringnya.

“Isn’t she sweeter than this?” si kakek memuji nenek, membandingkan dia dengan kue yang disuapkan untuknya.

Ya Tuhan, so sweet banget sih! Taann, jangan bawa perasaan. Inget ini lagi kerja, pake seragam. Ga boleh keliatan emosional.

“Sir, if you don’t mind… May I know how long have you been married?”

“Already 42 years now. She is my wife, my best friend, my financial minister, my everything,” kakek itu memandang mesra istrinya sebelum melanjutkan, “What about you? Are you married?”

Gue menelan ludah.

“I wish… soon?” jawaban ini kombinasi denial dan harapan tingkat tinggi.

“It’s okay.. One day you will find the one. Hopefully he’s your best friend. My advice for you, marry your best friend then you will have the most beautiful marriage in the world. Just like us, hehehe..”

Gue tersenyum dan memuji kemesraan mereka dengan tulus. Di dalam kepala gue, ada banyak pikiran berlarian dan berkejaran.

“Thank you for your advice. I will remember that, Sir.”

Dalam hati gue berkata pada diri gue sendiri, “and most of my male best friends are not into women…”

*) sumber foto: nypost.com

Written by dearmarintan

A frequent flyer who finds a delight in reading books and visiting beautiful bookshops. Currently reading “Think Like A Manager, Don’t Act Like One” by Harry Starren.

Website: http://dearmarintan.com/

7 comments
  1. duuuhhhh, so sweet bgd ya mbk, baca postinganmu aja, udh bikin aku mesam mesem bayangin si kakek sm si nenek.
    bestfriend ya ? emmmm… aku gk smpek best sih, cm friend aja langsung ningkat jd mas bojo 🙂

    • @Inda Chakim: hehehe, mesam mesem kenapa, mbak? Duh, aku pas ngelayanin pasangan itu aja rasanya kaya mau meleleh kakiku mbak, saking sweetnya mereka hehehe..

      Yah, gapapa mba, kan tetep diawalin dari pertemanan baru meningkat jadi pelaminan 🙂

  2. Entahlah mbak, kalo di aku ini ga berlaku malah 🙁 .. dulu pernikahan pertama itu dgn abng kelasku, yg sebelumnya temen deket bgt.. temen curhat dr smp, temen sharing, sahabat paling baik lah. Setelah nikah justru semuanya kacau.. terakhir ya cerai dan hubungan kita putus kontak samasekali.. ibaratnya dr sahabat jd musuh :(. Suami yg skr justru baru kenal di kantor.. dan alhamdulillah fine sampe saat ini :). Sjk itu aku g terlalu mau pacaran apalagi nikah ama sahabat, krn ga mw hancur hubungan stlh putus. Pernah jg soalnya pacaran ama sahabat sndiri. Pas putus , wassalam de. Udh g bisa sedekat dulu..

Leave a Reply

%d bloggers like this: