Mengunjungi Museum Koleksi Terbesar di Istanbul

koc2

Akhir bulan Juli lalu gue senang bukan main karena akhirnya kembali terbang ke Istanbul, Turki. Sudah lama sejak kunjungan terakhir gue ke sana sekitar lima-enam bulan lalu. Yang bikin gue lebih senang adalah kali ini gue mendapat layover 49 jam di sana, yang berarti gue berada di kota keren tersebut selama dua hari lamanya. Lumayan panjang waktu yang bisa gue gunakan untuk berjalan-jalan tanpa harus mengorbankan waktu tidur dan istirahat selepas terbang dua sektor Riyadh – Dammam – Istanbul.

Berhubung ini layover panjang, gue pun merencanakan untuk pergi sendirian saja tanpa ditemani satupun kru lainnya. Gue memang lebih senang jalan-jalan sendiri daripada berkelompok dengan terlalu banyak orang. Dengan begitu gue bisa bebas menentukan mau jalan ke mana tanpa perlu pusing memikirkan apakah orang lain mau mengunjungi tempat yang sama atau nggak. Di hari kedua layover, gue pun tanpa pikir panjang memutuskan untuk pergi ke Rahmi M. Koç Muzesi.

Ini teman jalan saya ke museum hehehe :)

Ini teman jalan gue ke museum hehehe 🙂

Berdasarkan hasil googling singkat dan dari beberapa review yang gue baca online, itu adalah museum transportasi. Ada juga yang menggambarkan museum itu sebagai museum mainan dan benda unik. Hmm, kok reviewnya macam-macam ya? Daripada semakin penasaran gue pun memesan uber dan membawa boneka beruang gue untuk diajak.

Supir uber yang membawa gue menuju museum bernama Fatih dan dia kurang bisa berbahasa Inggris. Hanya sepatah dua patah kata saja yang dia ucapkan pada gue selama perjalanan yang intinya menanyakan apakah gue menyukai Istanbul. Tentu saja gue jawab dengan anggukan dan senyum lebar.

“I love Istanbul.”

Fatih pun tersenyum dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Turki yang gue nggak ngerti artinya. Perjalanan dari hotel menuju museum tersebut memakan waktu sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan gue mengambil banyak foto pemandangan yang didominasi cuaca cerah dan pepohonan hijau menyejukkan mata. Istanbul benar-benar cantik dan damai hari itu, gue beruntung sekali. Mengingat dua minggu sebelumnya sempat terjadi kudeta terhadap pemerintahan Erdogan yang nyaris melumpuhkan kota itu.

Sesampainya di museum, gue segera menyambangi meja informasi dan penjualan tiket. Harga tiket masuk cukup terjangkau hanya 15 Turkish Lira (TL) atau sekitar Rp 65.000 atau USD 5. Staf informasi memberikan gue tiket masuk dan map museum dalam Bahasa Inggris. Dia juga menjelaskan bahwa museum ini terdiri dari dua bangunan dengan beragam koleksi mainan dan transportasi.

Deretan koleksi yang pertama kali gue sambangi adalah mobil-mobil mewah jaman dulu yang terpampang dengan anggun. Beberapa mobil yang gue kagumi ada di sana, seperti Buick dan Pink Cadillac. Warna merah mudanya benar-benar menyala dan kece banget! Duh, jadi kepengen punya mobil klasik itu…

Gue beranjak ke ruangan lainnya dan terlihat deretan mainan kereta kuda dan kereta uap jaman dulu. Bukan hanya mainan, tapi bahkan gerbong kereta aslinya pun ada pula dipajang di sebuah ruangan khusus. Tapi yang paling menarik perhatian adalah tram khas Turki yang dipajang di ruangan lain. Gerbong tram tampak bersih dari luar maupun bagian dalamnya. Catnya mengkilap dan para pengunjung bebas keluar masuk tram untuk merasakan bagaimana menjadi penumpang di tram jaman dulu.

koc6

koc8

koc1

Tram yang dipamerkan ada dua jenis yaitu tram klasik yang ditarik dengan kuda oleh sang masinis dan tram listrik yang berjalan di atas rel tanpa ditarik kuda. Di masa kini, turis masih masih bisa melihat dan menaiki tram di daerah Taksim, Istanbul. Tentunya tram listrik dan badan gerbongnya terlihat lebih modern daripada yang dipajang di museum ini. Karena itu, jangan heran bila para pengunjung bergaya dan mengabadikan foto mereka bersama tram klasik ini.

Puas melihat-lihat tram klasik, gue mendaki tangga menuju ke lantai 2. Di sini terdapat memorabilia personal milik Rahmi M. Koç, orang yang menginspirasi berdirinya museum ini. Rahmi dibesarkan dari keluarga berada dan terhormat yang tinggal di Ankara. Ayahnya merupakan dealer mobil-mobil Ford dan sering bepergian ke luar negeri untuk keperluan bisnisnya. Semasa kecil Rahmi sering menerima oleh-oleh dari ayahnya, namun pengasuhnya yang berasal dari Jerman menyarankan agar dia menerima oleh-oleh spesifik berupa mainan kereta-keretaan.

Di masa dulu mainan kereta-keretaan buatan Eropa memang terkenal sangat bagus dan desainnya kompleks. Ayah Rahmi pun setuju, dari sanalah berawal minat dan ketertarikan yang besar terhadap kereta dan berikutnya moda transportasi lainnya. Tidak heran kalau koleksi Rahmi yang semakin lama semakin menggunung, menginspirasinya untuk merumahkan koleksi tersebut dalam sebuah museum agar banyak orang bisa melihat dan mempelajarinya.

koc11

Semakin dewasa, koleksi Rahmi bukan lagi mainan, melainkan barang-barang sungguhan. Museum ini memiliki banyak sekali gerbong kereta, kapal, mobil, bus dan bahkan pesawat tua yang dirawat dengan baik dan bisa diamati dan dimasuki oleh para pengunjung. Inilah yang membuat museum ini tampak sangat menarik untuk dikunjungi karena luasnya ragam koleksi yang dimiliki oleh Rahmi. Itu juga mengapa namanya diabadikan sebagai nama museum, karena museum ini terlalu besar bila dilabeli sebagai museum transportasi atau museum memorabilia.

koc5

koc3

Sejarah pendirian museum dan juga latar belakang hidup sang pendirinya pun dikemas secara menarik dalam sebuah film singkat yang bisa ditonton di lantai dua gedung utama museum ini. Di lantai yang sama terlihat pula beragam memorabilia yang menggambarkan identitas seorang Rahmi M. Koç sebagai seorang intelektual maupun sebagai kolektor. Yang menarik bagi gue adalah pesan yang disampaikan oleh Rahmi tentang mendirikan sebuah museum. Kata-katanya berikut ini bisa menjadi pelajaran bagi direktur museum di seluruh dunia untuk mengurus museum sebagai tempat yang bukan hanya edukatif tapi juga menarik dan mengundang lebih banyak pengunjung datang.

“The museum cannot be dirty or dusty. Staff must be genial, clean shaven, knowledgeable. Entry to the museum cannot be too expensive, so a family of four can afford to visit the museum and have money to buy drinks and eat later.”

(“Museum tidak boleh kotor atau berdebu. Para staf harus ramah, berpenampilan bersih, dan berwawasan luas. Harga tiket masuk museum tidak boleh terlalu mahal supaya keluarga yang terdiri dari empat orang anggota bisa datang dan masih memiliki uang untuk makan dan minum setelah kunjungan mereka.”)

– Rahmi M. Koç, pendiri museum.

koc9

Semua yang diucapkan Rahmi tercermin dari penampilan museum secara keseluruhan. Museum tampak bersih, rapi, terawat dan menyenangkan untuk dikunjungi. Apakah museum yang dibuka untuk umum sejak 13 Desember 1994 ini layak dikunjungi? Sudah pasti! Siapapun yang datang ke Istanbul dan punya waktu luang di pagi atau siang hari, wajib berkunjung ke museum ini untuk menikmati koleksi di dalamnya dan mensyukuri perkembangan teknologi transportasi yang bisa kita nikmati di masa kini.

koc4

Rahmi M. Koç Muzesi (Museum)
Lokasi: Rahmi M Koç Museum
Hasköy Cad. No: 5
Hasköy 34445 – Istanbul

Telepon: (0)212 369 66 00-01-02

Jam Buka: 10.00 – 17.00 (Selasa – Minggu). Museum tutup setiap hari Senin dan hari raya. Untuk jadwal kunjungan lengkap, cek di website.

Harga Tiket: 15 Turkish Lira

Wi-fi: Ada, dengan password (minta kepada staf museum).

Toilet: Ada, kondisi sangat bersih dan dibersihkan secara berkala.

Kafe / Kantin: Ada 3 kafetaria yang bisa dikunjungi dengan harga makanan dan minuman terjangkau.

Toko Suvenir: Ada.

Kebersihan: Sangat bersih dan asri.

Lingkungan: Di sekitar museum ada taman yang ramah keluarga, museum juga berbatasan dengan perairan Golden Horn yang banyak dilewati oleh kapal. Membuat pemandangan di sore hari saat matahari terbenam terlihat damai dan romantis.

Akses Transportasi: Mudah dijangkau dengan taksi atau uber. Museum terletak di tepi jalan sehingga mudah ditemukan.

Use Facebook to Comment

comments

2 comments

  1. dwi says:

    Huwaaaaaaa akhirnya bisa terbang ke Istanbul lg ya, semoga di sana aman tentrem slalu yaaa.
    Btw mirip Museum Angkut di Malang ya, pas ngeliat deretan mobil antiknya.
    Dan trem jadul itu mengingatkan film jadul juga “Little Missy” hehe.

    • dearmarintan says:

      @Dwi: iya setelah sekian lama akhirnya bisa ke sana lagi dan kali ini untuk waktu yang lebih lama pula.. aku belum pernah ke museum angkut di Malang jadi ga bisa bandingin, hehehe.. tapi kalo aku ada kesempatan ke sana pastinya pengen banget berkunjung. Waktu acara sama Tiwi beberapa waktu lalu, aku ketemu sama Mas Didik yang punya diklat pramugari dan semacam flight simulator / cabin mock up di sana. Mungkin aku bisa ke sana kalo ada kesempatan dan kita bisa sekalian ketemuan meet-up ya 🙂

      Anyway, thank you lho udah main dan komen di blogku 🙂

Leave a Reply