Mengejar Matahari Terbenam di Kochi, India

img_1899

Ini adalah kali ketiga gue terbang ke Kochi, India. Di dua kunjungan sebelumnya, gue hanya sempat pergi ke mall dekat hotel dan mampir ke pasar oleh-oleh di pusat kota. Kali ini gue memutuskan untuk melakukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang nggak melibatkan kegiatan berbelanja dan berdesak-desakkan di tempat belanja demi mendapat barang diskonan. Jadilah gue dan beberapa crew lainnya memutuskan untuk menyusuri danau di belakang hotel dengan perahu unik.

Kami meminta bantuan staf hotel untuk mengatur boat trip tersebut. Dan setelah mendiskusikan harga serta waktu terbaik untuk naik perahu, akhirnya kami sepakat untuk berkumpul di lobby pada jam 15.45 waktu setempat. Jadwal berperahu menyusuri danau yang kami setujui mulai dari jam 16.00 hingga 18.00 supaya kami bisa melihat pemandangan sekitar saat matahari perlahan terbenam.

Tarif yang dikenakan untuk boat trip ini yaitu 4.000 rupees atau sekitar SAR 220 atau Rp 790.000 bila dikonversikan dalam mata uang Saudi Riyals dan Indonesian Rupiah. Kami bertujuh patungan sehingga biaya yang ditanggung per orang terbilang terjangkau. Lagipula untuk perjalanan menggunakan perahu selama dua jam di kawasan wisata, biaya tersebut bisa dibilang wajarlah.

group photo in Kochi

Pada jam pertama kami menyusuri danau, langit masih cerah dan berawan. Di sepanjang danau yang kami susuri terlihat pohon-pohon kelapa dan beberapa burung kecil terbang rendah. Cuaca cerah dimanfaatkan oleh teman-teman gue untuk berfoto selfie di perahu dengan latar belakang pemandangan hutan Mangroves yang menjadi sumber kehidupan dari segala makhluk di danau tersebut.

img_1846

img_1841

img_1795

img_1883

Seiring waktu berlalu, matahari mulai terbenam dan pemandangan di sekitar danau jadi kelihatan semakin keren pada jam 17.30 hingga 18.00. Semburat warna keemasan membuat pohon-pohon kelapa yang tertidup angin sore terlihat seperti gadis-gadis Hawaii yang sedang menari. Perahu bergerak melambat, sehingga kami bisa menikmati pemandangan yang terlihat seperti lukisan tersebut lebih lama.

Di sekitar kami tampak satu-dua rumah warga lokal yang berdiri di tepian danau. Beberapa penghuninya melongok keluar untuk melihat kami, para pendatang berwajah asing yang menikmati pemandangan dari atas perahu unik. Mungkin bagi mereka, kami terlihat menarik karena ternyata jarang sekali ada rombongan crew, apalagi kami semua wanita, naik perahu dan menyusuri danau ini. Benar saja, sepanjang perjalanan hanya sesekali kami melihat perahu turis lewat, itupun biasanya wisatawan lokal yang datang bersama keluarga mereka.

Mungkin bagi banyak orang, apa yang gue lakukan ini adalah hal yang biasa. Ah, apa yang istimewa dari menyusuri danau dan hutan Mangroves dengan perahu? Bukannya di Indonesia juga banyak jasa wisata seperti itu dan bahkan dengan pemandangan yang lebih indah.

Memang benar. Tapi sewaktu masih berdomisili di Jakarta, sayangnya gue nggak pernah terpikir untuk melakukan wisata seperti ini. Apalagi sekarang gue tinggal dan bekerja di Riyadh. Salah satu kota metropolitan di dunia di mana pemandangan sehari-hari yang gue lihat hanyalah gedung-gedung pencakar langit, compound di mana gue tinggal, dan bandara yang menjadi tempat gue pulang pergi untuk bekerja sehari-hari. Di Riyadh, jarang sekali terlihat pepohonan apalagi pemandangan seperti yang gue lihat di Kochi ini.

Memang benar kata orang. Kita nggak pernah benar-benar menghargai apa yang kita miliki, sampai kita udah nggak memilikinya lagi. We often take for granted the things that we have, use, and see every day that somehow we forget to be grateful for that. And when it’s gone, we realize how valuable it was and we miss it a lot.

Perjalanan mengejar matahari terbenam di Kochi memang mengesankan. Gue jadi berpikir untuk mengejar matahari terbenam (atau matahari terbit, kalau gue bisa bangun super pagi, hahaha) di kota-kota lainnya saat gue layover. Karena melihat sang surya terbit dan terbenam dalam sinar keemasannya, ternyata bisa membuat gue merasa tenang dan damai.

when in Kochi

~ sebuah catatan perjalanan dari Ernakulam, Kochi, India pada tanggal 10-11 Februari 2016

Written by dearmarintan

A frequent flyer who finds a delight in reading books and visiting beautiful bookshops. Currently reading “Think Like A Manager, Don’t Act Like One” by Harry Starren.

Website: http://dearmarintan.com/

Leave a Reply

%d bloggers like this: