Sekolah Pramugari: Yes or No?

FA_training

Kemarin gue ngecek grup LINE Forum Pramugari 1 dan menemukan banyak notifikasi chat di sana. Wah, lagi rame ngebahas apa nih? Karena penasaran, meskipun lagi mumet belajar buat tes IELTS sabtu besok, gue pun membuka chat dan membaca percakapan di dalamnya.

Ternyata lagi pada ngebahas tentang sekolah pramugari. Salah seorang member grup bernama Imas memposting beberapa foto laman website sekolah pramugari. Ada beragam sekolah yang tersebar di daerah, mulai P3 Nusantara, PSPP Penerbangan, Jogja Flight Education Center, dan masih banyak lainnya yang sejenis. Imas cerita bahwa dia tadinya berniat untuk mendaftar ke salah satu sekolah pramugari yang akan memulai pendidikan di bulan Juli nanti, tapi dia mengurungkan niatnya setelah ngobrol dengan sesama member di grup LINE FP 1.

Wajar saja banyak yang menasehati dia untuk ga ikutan sekolah pramugari. Selain biayanya mahal, juga ga ada jaminan bahwa lulusannya akan langsung bekerja di maskapai. Gue pribadi ga pernah mendukung teman atau pembaca FP yang ingin jadi pramugari atau pramugara untuk ikutan sekolah semacam itu. Kenapa? Karena memang ga ada jaminan langsung kerja begitu lulus. Dan kebanyakan materi yang diajarkan pun materi umum yang masih bisa dicari tahu sendiri oleh kandidat kalau rajin dan niat riset untuk terjun di profesi ini.

It’s all provided for free on the internet.

Okelah, beberapa orang mungkin ada yang menyanggah pendapat gue dan berkata bahwa ga semua hal yang ada di sekolah pramugari bisa didapat materinya di internet. Well, memang ada beberapa materi di sekolah pramugari yang juga diajarkan di airlines contohnya social grace, grooming, service and safety. Tapi gue yakin banget deh, sekolah pramugari ga akan menyentuh secara mendalam aspek safety and service seperti yang dilakukan di airlines training academy pada umumnya.

Kenapa? Karena itu membutuhkan fasilitas yang tidak sembarangan dan sulit untuk disediakan. Gue ga yakin sekolah-sekolah macam itu bisa menyediakan flight training yang memadai. Karena itu perlu simulator dan tenaga pengajar yang berkomitmen untuk menjadikan lulusannya siap terjun di profesi tersebut.

Beberapa maskapai ada yang meminjam fasilitas flight training Garuda Indonesia karena mereka ga punya fasilitas memadai untuk tes para cabin crew traineenya. Contohnya Orient Thai Airlines dan Pullmantur Air (untuk charter flights berbasis di Saudi Arabia) yang meminjam aircraft mock up dan simulator supaya cabin crew trainee mereka bisa melaksanakan ujian praktik.

Tentunya peminjaman fasilitas tersebut ga sembarangan dan juga dilakukan untuk tujuan yang memang masuk akal. Lah, apa kabar dengan sekolah-sekolah pramugari tersebut? Gue ga yakin para lulusannya menjalani training seperti itu. Lagipula training dilakukan menyesuaikan aircraft type yang dipelajari. Sedangkan sekolah pramugari gue ragu menyediakan manual dan training spesifik semacam itu. Memangnya kalau sudah lulus, mau langsung terbang? Kalau ya, terbang di mana?

Kebanyakan sekolah pramugari hanya membantu memfasilitasi murid-muridnya untuk bisa dilirik oleh pihak maskapai. Dengan titel lulusan sekolah pramugari, nantinya diharapkan punya nilai lebih daripada kandidat lain yang ga bersekolah di sana. Sah-sah saja sebenarnya membuka sekolah pramugari, tapi yang gue ga suka dari kebanyakan iklan sekolah semacam itu adalah mereka melakukan promosi dengan kata-kata dramatis seolah menjamin siapapun yang masuk sekolah itu dan lulus pendidikannya akan langsung diterima di maskapai sebagai pramugari. Padahal kenyataannya ga begitu.

Gue banyak kok ketemu sama lulusan sekolah pramugari sewaktu dulu masih sering ikut rekrutmen maskapai dalam dan luar negeri. Dulu, saking naifnya, gue berpikir mereka akan langsung diterima oleh panitia rekrutmen. Ternyata ngga dong… Bahkan ga sedikit yang akhirnya keluar dari ruang interview bareng gue karena sama-sama gagal.

Kalau gue gagal karena kurang persiapan, penampilan cupu dan grogi kalau jawab pertanyaan saat interview. Lah, mereka gagal karena apa dong? Emangnya di sekolah pramugari ga diajarin semua itu?

Sekitar tahun 2010 biaya sekolah pramugari berkisar antara Rp 10 – 15 juta. Semalam dari cerita Imas, gue terbelalak kaget saat mengetahui bahwa biaya itu sudah naik berlipat ganda. Salah satu sekolah pramugari mematok biaya Rp 42 juta untuk masa pendidikan selama satu bulan. Oh, Tuhan…. Itu demi apa mahal bangeeetttt!

Tanpa bermaksud untuk membuat sekolah pramugari kehilangan pamor atau calon murid, gue menerangkan kepada member FP mengenai penting atau tidaknya sekolah pramugari. Gue terangkan ke mereka bahwa gue dan banyak orang lainnya yang akhirnya bisa berprofesi sebagai cabin crew, bukanlah lulusan sekolah macam itu. Malahan kalau boleh jujur, gue belum pernah punya kolega yang cerita bahwa dia lulusan sekolah pramugari. Entah kalau memang ada, tapi yang gue tau kebanyakan dari mereka adalah awalnya pekerja kantoran biasa, pernah kerja di hotel atau di maskapai tapi untuk posisi ground staff, atau fresh graduates dari SMA atau universitas yang langsung jadi cabin crew begitu lulus sekolah.

Lagipula, uang sebanyak itu untuk membiayai pendidikan yang singkat dan tanpa jaminan kerja mau mereka dapat dari mana? Uang ga turun dari langit dan dari banyak cerita yang gue dengar banyak yang ikut sekolah semacam itu dibiayai oleh orang tua. Hmm, kasihan kan memberatkan orang tua untuk sesuatu yang belum pasti. Kalau kamu kebetulan baca postingan blog gue ini sehabis googling nyari info sekolah pramugari, coba deh pikirkan baik-baik. Apakah kamu tega membebani ortumu dengan biaya puluhan juta untuk sekolah pramugari?

Padahal belum tentu sehabis lulus kamu diterima bekerja sebagai pramugari. Dan kalaupun diterima, kamu masih harus training lagi di maskapai tersebut untuk mempelajari banyak hal yang pastinya nggak diajarkan di sekolah pramugari manapun. Dan semua training itu gratis. Bahkan kamu dikasih uang saku atau diberi basic salary selama masa training oleh pihak maskapai. Setelah membaca fakta ini, kamu yakin masih mau daftar sekolah pramugari?

Daripada sekolah pramugari, mendingan uangnya dipakai untuk merawat penampilan terutama gigi, kulit wajah dan tubuh, serta rambut. Bisa juga uangnya dipakai untuk les bahasa Inggris atau kalau udah bagus bahasa Inggrisnya ya les bahasa asing lain untuk menambah nilai plus saat ikut rekrutmen. Kalau masih ada uang juga, kamu masih bisa pakai untuk les public speaking untuk nambah kepercayaan diri saat sesi interview. Itu semua jauh lebih berguna dan bermanfaat.

Lagipula, yang seharusnya dipelajari itu bukan bagaimana cara jadi pramugari, tapi bagaimana lolos interviewnya dulu. Itulah yang ga diajarkan di sekolah-sekolah pramugari, makanya ga heran kalau banyak lulusannya yang gagal interview.

Tips-tips interview bisa dengan mudah dan GRATIS didapat di website forumpramugari.com atau gabung grup linenya dan ngobrol sama sesama member lain. Di grup ini kita sering banget ngebahas soal rekrutmen atau tips yang berguna saat interview.

Intinya, kalau ada yang gratis kenapa harus bayar apalagi menyulitkan orang tua?

Use Facebook to Comment

comments

7 comments

    • dearmarintan says:

      @Dwi: abis geregetan sih, Wi.. kok mereka makin lama makin menjadi.. janji-janji berlebihan kalo lulusannya siap kerja, bisa langsung terbang, dll.. angin surga banget padahal kenyataannya ga semudah itu..

Leave a Reply