Belajar Menyikapi Kehilangan

Let It Go

Sepertinya memang sudah sifat manusia untuk bisa memiliki semua yang diinginkannya. Apa yang dilihat dan menarik hati, rasanya sulit dilepas begitu saja apalagi kalau sampai jadi milik orang lain. Bahkan seorang anak kecil pun tahu ini. Menangis dan merajuk demi membuat orang tuanya membelikan mainan yang diidamkannya. Apakah mainan itu akan dirawat dan dipergunakan dengan baik, itu urusan belakangan. Yang penting bisa memilikinya dulu.

Ini berlaku bukan hanya untuk mainan saja, tapi juga untuk banyak hal lainnya. Berapa banyak orang di dunia ini yang merasa harus memiliki seseorang tertentu dalam hidupnya? Ada banyak sekali kan, mungkin kita salah satu dari sekian banyak orang tersebut. Terkadang kita merasa cemburu bila orang lain memiliki sesuatu yang kita anggap lebih pantas bagi kita. Kita juga merasa sedih bila apa yang dulu kita miliki kini berpindah tangan menjadi milik orang lain. Manusia bisa menjadi begitu posesif akan apa yang dia yakini miliknya.

Pada dasarnya, kita tidak akan pernah merasa kehilangan sesuatu atau seseorang jika sejak awal kita tidak pernah merasa memilikinya. Jika seandainya kita menerima segala sesuatu atau semua orang yang hadir dalam hidup kita sebagai uluran tangan Tuhan untuk membantu dan membuat hidup lebih berwarna, tentu kita tidak akan keberatan bila suatu saat benda atau orang tersebut diambil oleh-Nya.

Tapi itulah manusia. Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, memiliki sesuatu atau seseorang adalah caranya memperkaya diri. Begitu tiba saatnya benda atau orang yang dimilikinya ‘diambil’ atau ‘dipinjamkan’ Tuhan kepada orang lain, kita menjadi marah, sedih, kecewa… Kita merasa sangat kehilangan dan tak berpunya…

Ada masa dalam hidup kita, di mana kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan datang dan apa yang akan pergi. Mungkin dulu kita memiliki banyak teman akrab, tapi sekarang kita hanya punya satu atau dua sahabat. Bisa jadi dulu kita memiliki banyak harta benda, sekarang kita hanya punya sedikit uang saja untuk bertahan hidup. Kecewa, sedih, kehilangan, tentu perasaan itu ada… Karena kita merasa pernah memiliki itu semua.

Gue pun baru-baru ini mengalami kepahitan itu. Kehilangan seorang teman akrab yang dulu gue kira akan menjadi sahabat seumur hidup. Perbedaan membuat kami berselisih dan ego masing-masing membuat kami berpisah. Perasaan gue ga bisa digambarkan saat gue harus kehilangan dia. Bukannya gue ga mencoba untuk berbaikan kembali. Beberapa cara mulai dari yang tersirat sampai yang terungkap jelas gue lakukan demi bisa menyambung persahabatan kami yang dulu kental. Mulai dari bertanya baik-baik hingga meluapkan amarah yang bercampur kekecewaan, kesedihan, dan kebingungan mengapa semua ini bisa terjadi pun sudah juga gue lakukan. Sayangnya itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Malah semakin buruk.

Di hari-hari pertama setelah perselisihan tersebut terjadi, gue merasa sangat buruk tentang diri gue sendiri. Gue bertanya-tanya mengapa semua ini bisa sampai begini. Pastilah ada yang salah pada diri gue sampai hal ini bisa terjadi. Tapi di bagian mana salah gue dan mengapa sampai harus seperti ini, itulah yang sampai sekarang belum gue temukan jawabannya. Gue hanya bisa menerka-nerka tanpa benar-benar mengerti apa dan mengapa. Setelah dua minggu berlalu, gue merasa sedikit lebih baik. Bukan berarti gue bahagia karena sudah kehilangan teman tersebut. Bukan. Justru gue merasa sedih dan kecewa. Tapi apa yang bisa gue lakukan? Ga ada lagi. Setidaknya itu yang gue pikir saat ini. Entah besok, entah minggu depan, entah tahun depan.

Perasaan gue membaik karena gue akhirnya menyadari bahwa gue tidak bisa memiliki teman gue tersebut untuk selamanya. Dia bukanlah barang yang bisa gue bawa ke mana saja dan perlakukan sesuka hati gue. Dia bukan sesuatu yang bila direbut atau berpindah tangan ke orang lain, maka gue bisa berteriak marah karena merasa dia milik gue. Gue ga bisa bersikap posesif karena dia bukanlah benda mati tanpa perasaan yang bisa gue atur atau permainkan semau gue.

Gue hanya bisa bersyukur dia pernah hadir dalam hidup gue. Membuat hidup gue lebih ceria dengan canda tawanya dan cerita-cerita lepasnya yang berwarna. Kehilangan ini membuat gue belajar bahwa gue ga bisa memiliki siapapun di dunia ini. Baik itu dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun hubungan lainnya. Gue sudah pernah kehilangan seorang ayah dan butuh bertahun-tahun untuk bisa mengikhlaskan kepergiannya. Sekarang gue kehilangan seorang teman karib dan itu pun ga mudah. Gue ga tahu berapa lama waktu yang gue butuhkan untuk bisa mengikhlaskannya.

Semoga di masa depan, saat gue harus kehilangan pacar, pasangan hidup, atau siapapun, gue bisa lebih baik lagi menyikapinya. Tidak dengan kekecewaan yang mendalam atau kesedihan yang berlebihan. Karena pada dasarnya, gue atau siapapun di dunia ini, tidak bisa memiliki sesuatu atau seseorang untuk selamanya. Saat kita harus mengalami kehilangan tersebut, berbesar hati sajalah. Anggap saja ada orang lain yang lebih membutuhkan mereka dibandingkan kita. Ikhlaskan dan bersyukur saja mereka pernah hadir mewarnai hidup kita.

Learn to let things and people go, so we can receive the new ones that God has in store for us…

Use Facebook to Comment

comments

Leave a Reply