Melihat Perkembangan Budaya Arab di Museum Al Tayebat

altyb1

Jalan-jalan ke museum merupakan salah satu cara gue untuk menghilangkan stres sekaligus mendapatkan hiburan. Kalau di Jakarta, mudah saja pergi ke museum. Tinggal tentukan mau ke mana dan berangkat saja. Lain ceritanya di Jeddah, untuk pergi ke mana pun gue harus mencari kawan yang juga ingin pergi ke sana, sebab moda transportasi yang tersedia untuk kaum hawa hanyalah taksi. Itu pun berisiko tinggi bila bepergian solo. Cara lainnya untuk jalan-jalan ya harus diantar oleh mobil atau shuttle bus yang disediakan oleh perusahaan.

Ini Abdul Rahim, pemandu wisata kita yang ramah dan lucu :)

Ini Abdul Rahim, pemandu wisata kita yang ramah dan lucu πŸ™‚

Pada tanggal 11 Agustus lalu gue dan teman-teman serumah pergi ke Al Tayebat International City Museum. Berhubung kami ada 7 orang, jadi biaya masuk museum untuk rombongan yang besarnya SAR 500 ya harus dibagi bertujuh, sehingga masing-masing orang membayar SAR 72 atau sekitar Rp 224.130. *kalau dikonversi ke Rupiah, rasanya pengen ngelus-ngelus dada ya.. duit segitu bisa dipakai mengunjungi semua museum di Jakarta, hahaha*

Manajer museum menjelaskan pada kami bahwa untuk berkunjung ke museum ini lebih baik 10 orang atau lebih, sehingga biaya kunjungan bisa ditekan jadi lebih murah. Untuk kunjungan individual bisa dilakukan kapan saja dengan tarif SAR 300 atau di hari Sabtu hanya dengan membayar SAR 50. Harga tiket masuk museum ini hanya berlaku untuk ekspatriat saja, untuk warga asli Saudi, gratis. Ya, GRATIS. *mendadak jadi ingin pindah kewarganegaraan, hahahaha*

Museum ini sangat unik karena didesain seperti sebuah kota kecil. Jadi saat masuk ke dalamnya ada beberapa bangunan yang bisa dikunjungi. Di gedung utama museum, terdapat empat lantai yang memamerkan beragam benda maupun relik bersejarah dari jaman dahulu hingga jaman modern.

Di lantai pertama, pengunjung bisa melihat sejarah terbentuknya dunia dan juga sejarah berdirinya Saudi Arabia. Ada banyak ruangan yang memamerkan benda-benda unik dari beragam kebudayaan dunia seperti Cina, Iran, Irak, Saudi, Turki, India, dan lainnya. Tentu saja dari semua itu yang paling menarik dan lengkap koleksinya adalah kebudayaan dan sejarah Saudi. Sebuah papan informasi memuat profil King Abdul Aziz lengkap dengan foto-foto di masa lampau dan penjelasan tentang betapa berwibawa dan bijaksana sosoknya dalam memerintah.

Di lantai dua, suasananya terasa sedikit magis dan sakral. Sebab ada berbagai manuskrip Al Qur’an dari beberapa ratus tahun yang lalu disimpan di lantai ini. Ada pula kain penutup Ka’bah di masa lampau yang disebut sittara yang terbuat dari benang emas dan perak murni. Sebetulnya di lantai ini pengunjung dilarang berfoto, tapi setelah meminta izin kepada tour guide yang bernama Abdul Rahim, kami diperbolehkan dengan catatan tidak mengambil foto manuskrip Al Qur’an.

Berfoto di depan sittara, kain penutup Ka'bah yang mewah, tulisan Arab dan ukiran pada kain terbuat dari benang emas dan perak murni sehingga menambah bobot kain tersebut.

Berfoto di depan sittara, kain penutup Ka’bah yang mewah, tulisan Arab dan ukiran pada kain terbuat dari benang emas dan perak murni sehingga menambah bobot kain tersebut.

Selain manuskrip, ada juga koin-koin emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang dipergunakan sebagai alat tukar jual beli di masa lampau. Juga terdapat berbagai perlengkapan perang yang digunakan tentara jaman dahulu, mulai dari pistol berbagai ukuran yang dilengkapi ukiran indah dan tulisan dalam bahasa Arab hingga baju zirah dan koleksi pedang yang kelihatan menyeramkan sekaligus mengagumkan.

Di lantai tiga, kami dibawa melihat-lihat peradaban kuno berbagai suku di Arab. Yang paling mengesankan bagi gue adalah saat melihat cara hidup suku Bedouin dan juga rumah-rumah khas penduduk di Abha. Replika rumahnya benar-benar digarap sesuai aslinya, mulai dari ruang tamu, dapur, hingga kamar tidur semuanya dilengkapi dengan perabotan khas yang dipakai oleh kebanyakan penduduk Abha.

Replika ruang tamu di rumah penduduk Abha

Replika ruang tamu di rumah penduduk Abha

Gantungan baju di ruang tamu menunjukkan efisiensi pemakaian ruangan

Gantungan baju di ruang tamu menunjukkan efisiensi pemakaian ruangan

Menarik sekali saat melihat ada jemuran baju digantung di ruang tamu. Kata Abdul, orang Abha rumahnya tidak sebesar rumah orang Jeddah modern, jadi mereka harus memanfaatkan setiap ruang dan bahkan dinding yang kosong untuk menaruh perabot. Kebanyakan orang Abha hidup dari berternak dan berdagang, sehingga jangan heran bila melihat karpet kulit kambing atau barang dagangan berserakan di ruang tamu atau di dapurnya.

Selain replika rumah unik tersebut, di lantai tiga pengunjung juga bisa melihat beragam koleksi pakaian pria dan wanita Arab untuk berbagai acara. Mulai dari abaya, burkha, thawb, hingga baju pengantin beragam suku dan pakaian kebesaran para bangsawan yang berupa jubah sutra dengan detail cantik pada kainnya.

Berhubung kebanyakan baju wanita Arab berwarna gelap atau hitam, gue merasa sedikit seram juga melihat-lihat manekin tanpa kepala yang memeragakan pakaian tersebut. Tak terbayang rasanya kalau berkunjung ke museum ini sendirian dan tanpa ditemani oleh pemandu. Pasti rasanya seperti uji nyali di tempat berhantu.

altyb8

altyb9

Lantai empat menjadi galeri terakhir di gedung utama museum ini. Tak banyak yang bisa dilihat, hanya kumpulan barang, lukisan, foto, dan informasi seputar perkembangan dunia Arab di masa modern. Kami pun melalui lantai ini dengan cepat karena kurang menarik bila dibandingkan dengan tiga lantai sebelumnya yang sarat dengan sejarah dan keunikan tersendiri.

Kunjungan ke museum tersebut kami mulai sejak jam 17.15 KSA hingga 21.00 KSA. Total waktu yang kami habiskan untuk mengunjungi seluruh bagian museum tersebut adalah tiga jam lima belas menit. Bagi yang gemar sejarah atau sekedar hobi berfoto narsis, waktu berkunjung yang disarankan adalah 3-4 jam supaya puas menjelajah seluruh bagian museum.

Sekian laporan kunjungan pertama gue ke Al Tayebat International City Museum. Semoga gue bisa berkunjung ke museum lainnya di Jeddah dan membuat laporan yang lebih menarik lagi πŸ™‚

Rombongan wisata museum hari ini (kiri-kanan): Tebe, gue, Ega, Emmy, Naila, Ruina, Audra

Rombongan wisata museum hari ini (kiri-kanan): Tebe, gue, Ega, Emmy, Naila, Ruina, Audra

Thank you for reading this post :)

Thank you for reading this post πŸ™‚

Al Tayebat International City Museum

Jam operasional: Sabtu – Kamis (*hari Jumat tutup)

8 am – 12 pm / buka kembali setelah jam solat Ashar / 5 pm – 9 pm Alamat: Rehana Al Jazeerah Street

Al Faisaliah 2, PO BOX 14032

Jeddah 21424

Harga tiket masuk

Per orang: SAR 300 atau sekitar Rp 933.875

Grup / rombongan 10 orang: SAR 500 (SAR 50 atau sekitar Rp 155.645 per orang)

Use Facebook to Comment

comments

13 comments

  1. Anita Dwi Mulyati says:

    Wah gak rugi bayar agak mahal untuk melihat museum yang eksotis ini. Lengkap dengan pernak-pernik nuansa timur tengah dan padang pasir, ornamen bangunannya juga kece banget buat foto2 narsis. Btw agak kepikir Arab Saudi yang makmur kok retribusi museumnya lumayan besar ya..hahaha ah sudahlah asli keren museumnya. Baca2 pengalamanmu tinggal di Arab Saudi menarik banget.

Leave a Reply