Being a Cabin Crew = Not Being Yourself

being cabin crew

Beberapa hari yang lalu, gue dan teman-teman sebatch gue belajar di kelas cabin familiarization. Instrukturnya adalah seorang pria bernama Peter yang sudah kurang lebih 17 tahun terbang sebagai pramugara. Materi yang diberikan memang mengenai kabin pesawat Boeing 747 – 400, namun Peter yang berkewarganegaraan Malaysia itu memberikan banyak info berguna lainnya. Kelas yang dimulai dari pagi sampai sore hari nggak terasa melelahkan karena banyak pengalamannya selama terbang yang dia bagikan kepada kami.

Salah satu yang paling menarik adalah saat dia bertanya pada kami semua, “Do you think you can be yourself when you become a cabin crew?” Banyak di antara kami yang mengangguk, ada juga yang diam saja. Peter pun bertanya lagi, sampai akhirnya nyaris seisi kelas menjawab “yes”.

“No, you are all wrong!” katanya, membuat banyak orang terdiam.

“You can’t be yourself when you are a cabin crew. If I’m being myself when I’m on duty that would not be good. I’m a shy person and I don’t talk to many people. How come I be a good cabin crew if I’m too shy to talk to the passengers?”

Peter menambahkan lagi bahwa seorang pramugari atau pramugara harus memperhatikan orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Ketika memakai seragam, profesi ini menuntut kita untuk profesional. Menjadi orang yang bisa diandalkan oleh perusahaan maupun penumpang untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Karenanya, semua pramugara dan pramugari harus bersikap profesional ketika memakai seragam.

Uniknya, kata Peter, meski sedang tidak memakai seragam, perilaku yang tertata dan standar tinggi yang didapatnya selama terbang sangat kuat dan membentuk karakternya. Setelah berhenti dari salah satu maskapai penerbangan Timur Tengah beberapa tahun yang lalu, Peter mencoba peruntungan dalam bisnis properti. Dia membeli beberapa kondominium dan menata interiornya sendiri supaya terlihat apik dan menarik hati para penyewa.

Sebagai pemilik properti dan dengan uang yang banyak, Peter bisa saja membayar orang untuk membersihkan toilet dan semua ruangan di dalamnya. Tapi pengalaman bekerja sebagai pramugara membuatnya rela melakukan semua pekerjaan itu sendiri. Bukan hal yang aneh bagi seorang pramugari atau pramugara untuk bersih-bersih toilet atau lavatory dalam istilah yang biasa dipakai untuk fitur pesawat. Tapi ini hal yang cukup mengherankan dan mengagumkan untuk seorang pemilik properti sampai mau turun tangan mengerjakannya sendiri.

Dari cerita Peter, gue banyak mencatat hal penting yang sangat berguna untuk siapapun yang mau jadi pramugari atau pramugara. To become a cabin crew, you have to be what the airline is looking for. A cabin crew must be a person that the passengers are looking for. Jadi, buat semua orang yang masih berjuang sekuat tenaga untuk jadi pramugari atau pramugara, you have the golden clue to achieve your dream job now.

Dress, talk, and behave like a cabin crew if you want to be one. I wish you great luck and see you soon 🙂

Use Facebook to Comment

comments

2 comments

  1. Ana says:

    Hi Mba marintan,, aku Ana. I really really like your blog. Really inspiring. Aku pengen banget ngobrol2 smaa Mba marintan.. Soal menjadi Cabin crew. Banyak bangt yang pengen aku tanyakan dan konsultasikan ke MBA intan. Kira2, gimana ya mba? Apa boleh aku minta e-mail Mba Intan?

    Thanks so much 🙂

Leave a Reply