Apa Sih Enaknya Jadi Pramugari Haji?

Seorang teman bertanya sama gue, “Apa sih enaknya jadi pramugari haji?”. Dia kemudian menambahkan bahwa dari cerita-cerita yang didengarnya, membawa penumpang haji membutuhkan kerja ekstra dibanding penumpang biasa. Sebab kebanyakan penumpang merupakan first-time flyers yang tentunya menimbulkan beragam reaksi saat naik pesawat. Ada yang riang gembira, ada yang masuk angin karena kurang kuat dengan terpaan hawa dingin di dalam kabin, ada yang gugup dan berdoa sepanjang matanya terjaga, dan masih banyak lagi hal menarik lainnya. Ini semua menjadi tantangan tersendiri bagi para pramugara dan pramugari yang bertugas melayani mereka.

Gue tersenyum simpul saat teman gue menanyakan suka duka selama terbang membawa para penumpang haji yang kebanyakan lanjut usia. Entah mengapa, agak sulit mengingat duka atau kesan negatif selama terbang. Bukannya sok ceria atau bagaimana, tapi memang gue lebih banyak merasakan hal yang menyenangkan selama bertugas. Atau mungkin juga karena menjadi pramugari merupakan pekerjaan impian gue ya, jadinya gue nggak terlalu banyak mengeluh, hehehe…

Anyway, gue pun menceritakan salah satu pengalaman berkesan kepada teman gue tersebut demi menjawab pertanyaannya. Pada suatu penerbangan dari Jakarta menuju Jeddah, gue kebagian cabin duty alias melayani penumpang saat waktu makan tiba. Untuk penerbangan panjang yang berdurasi kurang lebih 9 jam tersebut, terdapat 3 set pelayanan yang terdiri dari 2 hot meals dan 1 snack service. Setiap sesi pelayanan hot meal, semua pramugari dan pramugara memberikan makanan hangat dan minuman yang didistribusikan menggunakan meal / drink cart (kereta dorong makanan / minuman). Setelah para penumpang selesai menyantap sajian, kami harus mengumpulkan kotak atau nampan bekas makan beserta cangkir plastik dan sampah pembungkus makanan mereka.

Tugas yang kedengarannya mudah ya? Hehehe.. Sebenarnya mudah kalau dilakukan di darat, tapi lain cerita bila dilakukan di atas pesawat yang sedang terbang puluhan ribu kaki di atas awan. Belum lagi lebar aisle yang sempit sehingga ruang gerak terbatas. Menarik meal / drink carts dalam kondisi ini rasanya sama seperti ngegym dan membentuk otot-otot tubuh bagian atas, hahaha~

Semuanya berjalan seperti biasa sampai akhirnya tiba giliran gue untuk mengumpulkan sampah bekas santapan para penumpang di zona gue. Seorang bapak-bapak berusia sekitar 40 tahunan secara khusus menyerahkan kotak makannya paling akhir kepada gue.

“Ini, mbak. Terima kasih ya,” kata bapak tersebut sambil menyodorkan kotak bekas makannya cukup dekat dengan wajah gue.

Sebuah tulisan tangan terhampar di atas kotak makan berwarna putih gading itu. Gue membawa cart ke dalam galley dan mengamankannya terlebih dulu sebelum membaca tulisan si Bapak.

20131022_103055

“Terima kasih sajianya. Mudah mudahan dijadikan amal yang soleh dan dapat dibalas oleh Aloh berlipat ganda. Amin amin”

Gue nggak menyangka akan membaca tulisan tersebut. Polos dan tulus. Seandainya si Bapak nulis di atas secarik kertas, pasti akan gue simpan dan laminating supaya jadi kenangan berharga. Sayangnya semua kotak bekas makan harus dikembalikan ke dalam cart yang akan dibersihkan dan dibuang oleh cleaner pada saat pesawat mendarat. Hanya foto ini saja yang bisa mengabadikan tulisan sang bapak yang namanya lupa gue tanyakan.

Memang nggak semua jamaah haji yang naik pesawat mengerti cara menggunakan lavatory (toilet) dan terkadang mereka suka mengajak ngobrol dan bahkan foto-foto di saat gue sedang sibuk bekerja. Meski begitu, mereka sangat ramah dan baik hati. Gue sering banget didoakan oleh para penumpang entah karena alasan apa.

Pelayanan yang gue berikan merupakan bagian dari tugas dan gue merasa itu hal yang biasa saja. Tapi bagi orang yang jarang bepergian dengan pesawat atau bahkan baru pertama kalinya menggunakan moda transportasi itu dalam rangka ibadah, pelayanan yang gue berikan ternyata sangat berarti bagi mereka. Dan gue yakin, hal semacam ini, sangat langka ditemukan pada frequent flyers. Inilah salah satu alasan mengapa gue senang terbang di maskapai khusus haji dan umroh. Gue melayani dan membantu orang-orang yang akan beribadah. Meski berbeda keyakinan, gue selalu percaya bahwa membantu siapapun untuk beribadah adalah hal yang baik. Selain itu, banyak orang yang mendoakan gue meskipun gue bukanlah keluarga atau kerabat mereka. Didoakan oleh keluarga saja gue sudah senang, apalagi didoakan oleh penumpang yang mungkin hanya sekali saja gue temui selama penerbangan.

Dan gue sangat percaya akan kekuatan doa 🙂

Use Facebook to Comment

comments

11 comments

  1. Anita Lusiya Dewi says:

    Kesan ramah dari pramugara pramugari jelas sedikit mengurangi stress saat terbang, mak…
    Apalagi buat yang baru pertama kali terbang, senyuman jadi obat gugup tersendiri 😀
    Sukses selalu mak 😉

    • dearmarintan says:

      @Ulpi Yana: Hai, Yana.. syarat untuk jadi pramugari haji (atau pramugari pada umumnya) adalah memenuhi kriteria minimum yang ditetapkan maskapai, menyiapkan dan membawa berkas lamaran yang diminta dan mengikuti rekrutmen hingga lolos ke tahapan akhir.

      Syarat secara umum pastinya berbadan sehat, bisa berbahasa Inggris aktif secara lisan dan tulisan, berpenampilan menarik dan percaya diri. Untuk info lowongan pramugari bisa kamu cek di website forumpramugari.com ya 🙂

  2. Fina says:

    mba klo mau apply saudi arabian airlines, apply nya kemana ya?? kayaknya mereka jarang buka oprec ya,ada yg bilang katanya kita bisa langsung ke kantornya. Saya jd bingung…
    mohon pencerahannya 😀

    thx in advanced

Leave a Reply