Cerita Pramugari di Majalah Airliner World Indonesia

Tampilan artikel tulisan gue di majalah Airliner World Indonesia edisi Maret 2014 (photo courtesy: Zulkifli Rangkuti)

Tampilan artikel tulisan gue di majalah Airliner World Indonesia edisi Maret 2014 (photo courtesy: Zulkifli Rangkuti)

Beberapa waktu yang lalu, gue mendapat kesempatan untuk menulis sebuah rubrik di majalah Airliner World Indonesia. Tulisan gue dimuat di majalah tersebut edisi Maret 2014 dan oleh editornya diberi judul Kisah Nyata Super Stewardess. Sayangnya banyak pembaca setia blog Forum Pramugari yang tinggal di luar kota dan bahkan luar negeri yang tidak bisa membaca artikel tersebut dikarenakan memang distribusi majalah ini yang tidak sampai di kota atau negara domisili mereka saat ini. Karenanya, seperti yang gue janjikan dan setelah gue meminta izin kepada editor majalah tersebut, jadilah gue muat artikel tulisan gue di blog ini.

Siapkan cemilan dan selamat membaca artikel berikut ini 🙂

###

Airliner World Indonesia Mar 2014

KISAH NYATA SUPER STEWARDESS

Bagi banyak gadis muda, menjadi pramugari itu sepertinya keren dan seru. Kapan lagi bisa dandan kece saat bekerja dan jadi pusat perhatian banyak mata yang memandang? Belum lagi ritme kerja yang jauh dari kata rutin dan monoton. Seorang pramugari bisa saja menikmati sarapan pagi di sebuah kota dan di sore harinya melepas lelah sambil berjalan-jalan di sebuah kota atau bahkan negara yang berbeda. Ya, ini adalah salah satu pekerjaan yang paling menarik yang pernah ada di dunia. Tidak bisa saya pungkiri, sewaktu saya masih lebih muda dan lebih naïf dari sekarang, saya berpikiran sama mengenai profesi ini.

Namun bila berpikir lebih matang, ada alasan lain yang membuat saya memilih profesi ini setelah sebelumnya menjadi jurnalis selama hampir tiga tahun. Saya menjadi pramugari karena pekerjaan ini membuat saya merasa penting dan dihargai. Pramugari tidak semata berkutat pada pelayanan penumpang saat di dalam pesawat. Lebih dari itu, seorang pramugari dilatih keras untuk bersikap tenang dan menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa penumpang saat sebuah situasi darurat terjadi.

Saat menjadi jurnalis, saya bisa menyentuh banyak orang melalui tulisan-tulisan saya. Namun, tentu saja buah pikiran itu harus melewati tangan-tangan editor yang menyesuaikannya dengan agenda berita yang telah dibuat saat rapat redaksi. Tulisan-tulisan saya tentunya bisa berdampak bagi yang membacanya. Itu pun bila pembaca bisa menyerap intisari berita dan mengambil nilai-nilai positif yang termuat dalam tulisan saya. Kalau tidak? Tulisan itu tak akan membawa makna lebih bila dibandingkan dengan tulisan-tulisan berita serupa di media lain.

Dengan menjadi pramugari, saya dipaksa keluar dari zona lama yang selama ini membuat saya terlalu nyaman berinteraksi dengan orang lain lewat monitor komputer atau layar telepon genggam. Saya kembali berhubungan dengan banyak orang dan bahkan pada beberapa penerbangan yang tak saya sangka, saya berkesempatan untuk melihat sisi lain dari sesama manusia. Interaksi saya dengan para penumpang yang saya layani lebih dari sekedar tanya jawab ingin makan atau minum apa. Baik saya maupun penumpang sama-sama bisa memberi pengaruh atau pelajaran penting mengenai hidup saat berada di ketinggian 35.000 kaki.

Para penumpang mengingatkan saya untuk tetap beribadah dan pasrah pada Tuhan saat saya melihat betapa khusyuknya mereka berdoa di bangku masing-masing jelang take off dan landing yang kerap membuat mereka takut. Di lain kesempatan, mereka belajar pentingnya untuk memakai sabuk pengaman dan tetap diam di tempat duduknya saat pilot in command memberi sinyal terjadinya turbulence.

Pramugari adalah profesi impian saya karena saya bisa memainkan banyak peranan penting di dalamnya. Airline ambassador, security staff, customer service officer, fire fighter, negotiator, medical assistant, even superhero, maybe? Ini pekerjaan yang membuat saya merasa super sekaligus memampukan saya untuk menjadi lebih manusiawi daripada diri saya sebelumnya.

Saya tidak ingat persis tanggal berapa, namun yang jelas kala itu bulan Juni 2013 saya terbang pertama kali sebagai pramugari. Penerbangan tersebut dari Bangkok menuju Hong Kong. Saya masih menjadi pramugari magang yang hendak menjalankan tugas dalam rangka menuntaskan flight training setelah dua bulan lamanya mengikuti pendidikan pramugari. Meski sudah banyak yang saya pelajari dan malam sebelum terbang saya masih sempat menghafal beberapa aspek pelayanan maupuns keselamatan penerbangan yang penting, tetap saja ada yang kurang. Maklum saja, namanya juga baru terbang sebagai pramugari.

Syukurlah di tengah beberapa kekurangan yang saya lakukan, para kolega baik senior maupun sesama trainee dengan baik hati membantu. Menjadi pramugari memang menuntut konsentrasi tinggi agar dapat menyelesaikan tugas di zona masing-masing dengan baik dan efisien. Namun, pramugari tidak hanya mengerjakan bagian tugasnya saja, melainkan juga membantu sesama rekan yang kesulitan. Itulah gunanya team work sehingga tugas-tugas yang berat bisa dijalani dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Tentunya ada banyak cerita menyenangkan selama terbang. Sebab karakter masing-masing orang berbeda, baik karena perbedaan gender, budaya, maupun latar belakang lainnya. Saya mulai menyadari beberapa perilaku penumpang yang unik dan mempelajari pendekatan terbaik agar semua orang bisa mengalami penerbangan yang menyenangkan.

Penumpang asal Hong Kong kebanyakan orang muda. Walau ada pula orang tua yang bepergian bersama keluarga, saya lebih sering melihat kaum remaja, bahkan anak kecil (unaccompanied minor) yang bepergian sendiri untuk liburan atau menjumpai keluarga di negara lain di seberang lautan. Banyak yang bepergian sendirian, berbeda dengan penumpang Indonesia yang sering saya lihat bepergian setidaknya bersama seorang anggota keluarga atau teman baik.

Mereka mandiri dan bisa dibilang tidak sulit diatur. Mereka tak perlu diajari cara menggunakan lavatory (toilet) dengan benar seperti umumnya penumpang haji dan umroh asal Indonesia yang baru pertama kali naik pesawat. Meski tidak menyulitkan tugas saya sebagai pramugari, warga Hong Kong cenderung cuek dan kurang peduli terhadap sesama penumpang. Saya pernah sampai harus membujuk tiga gadis muda berusia kira-kira 16-17 tahunan agar mau berbagi selimut lebar dengan teman di sebelahnya.

Ketiganya baru saja kembali dari liburan di Bangkok dan hanya mengenakan celana pendek. Rata-rata penumpang remaja dari Hong Kong hobi memakai baju yang ‘kekurangan bahan’ sehingga saat berada di dalam kabin mereka akan merasa kedinginan dan meminta selimut serta eye mask agar bisa tidur nyaman walau sesaat. Gadis yang duduk di tengah saat itu meminta saya untuk mencari selimut lain agar mereka bisa menikmatinya tanpa harus berbagi.

Berhubung mereka duduk di kelas ekonomi, maka jumlah selimut yang tersedia terbatas. Saya tidak bisa memberikan semua selimut yang ada di zona saya untuk semua penumpang yang meminta. Sisa selimut sehelai lagi hendak saya berikan untuk sepasang kakek-nenek yang duduk hanya berbeda dua baris di belakang mereka. Untunglah kedua teman sang gadis membujuknya, sehingga saya bisa memberikan selimut tersebut kepada pasangan berusia sekitar 70-an tahun tersebut.

Lain penumpang Hong Kong, lain penumpang Arab Saudi. Selama ini saya hanya mendengar cerita-cerita sesama rekan seprofesi tentang bagaimana menantangnya melayani penumpang dari negeri nabi tersebut. Penumpang Saudi boleh jadi kaya raya dan sering bepergian ke luar negeri dengan menumpang pesawat. Namun masih banyak di antara mereka yang susah diatur dan keras kepala saat diperingatkan, meskipun peringatan yang disampaikan berhubungan dengan keselamatan mereka sendiri.

Pernah saya terbang pendek, dari Jeddah menuju Riyadh. Baru saja pesawat mendarat di runway, sudah ada seorang bapak berusia kira-kira 50-an tahun yang bangkit berdiri. Kondisi pesawat belum berhenti dengan sempurna alias masih bergerak. Berhubung penumpang tersebut duduk di zona yang tak jauh dari pintu darurat yang menjadi tanggung jawab saya, segera saja saya berteriak memperingatkan agar dia kembali duduk.

Sekali, dua kali peringatan saya tidak digubris olehnya. Saya langsung melepas shoulder harness dan seatbelt dari jumpseat yang saya duduki untuk menghampirinya. Belum sempat saya mendekat, sebuah tas kain besar di overhead bin yang dibuka oleh bapak tersebut jatuh dan menimpa wajahnya. Beberapa buah buku berbahasa Inggris yang cukup tebal berhamburan keluar dari tas tersebut. Sepertinya milik penumpang yang duduk di kursi depan bapak tersebut, sebab dengan sigap dia memunguti buku-buku itu.

Bapak itu marah-marah pada penumpang di depannya. Entahlah saya tidak mengerti arti ucapannya karena dia berkata-kata dalam bahasa Arab dengan ritme cepat. Penumpang yang lain ikut-ikutan berdiri seperti bapak tersebut, hendak mengambil barang-barang mereka dari kompartemen di atas kepala mereka. Segera saja saya berteriak kembali agar mereka berhenti sebelum ada lebih banyak barang lagi berjatuhan menimpa wajah mereka.

Ini benar-benar aneh, sebab saya belum pernah sampai harus berteriak agar penumpang menuruti perkataan saya menyangkut keselamatan mereka. Untungnya setelah saya berseru seperti itu, semua penumpang menurut. Walau saya bisa melihat mereka menggerutu kesal karena diatur-atur oleh seorang wanita muda berwajah Asia seperti saya. Beginilah sulitnya mengatur penumpang pria yang tidak terbiasa mendengarkan perkataan wanita karena kultur yang berlaku di negaranya.

Meski ada penumpang yang sulit diatur seperti itu, saya pun bertemu pula dengan beragam penumpang yang baik hati dan bahkan membuat hati saya tersentuh. Seorang Ibu asal Cianjur berujar dalam penerbangan Jakarta – Jeddah beberapa bulan lalu bercerita bahwa dulunya dia bercita-cita jadi pramugari. Namun, apa daya minimnya penguasaan Bahasa Inggris dan faktor ekonomi membuatnya mengubur cita-cita tersebut. Saat itu adalah kali pertamanya naik pesawat dan terbang ke luar negeri pula. Dia mengungkapkan, bahwa meskipun cita-citanya tidak kesampaian, bisa berfoto dengan pramugari saja dia sudah senang luar biasa.

Ungkapan bahagia sang Ibu membuat saya tersadar bahwa saya sangat beruntung bisa menjalani profesi ini. I know that so many people are willing to die to fit into my shoes, thus I always feel grateful every time I put my wing on and fly away.

Seperti ibu tersebut, banyak orang di luar sana mungkin hanya bisa bermimpi untuk bisa berada di posisi saya saat ini. Karenanya setiap hal yang saya lalui selama terbang, menyenangkan atau tidak, selalu saya coba untuk melihat dari sisi positifnya. Saya berharap semakin banyak pramugari Indonesia, baik yang bekerja di maskapai domestik maupun internasional, yang bersyukur dan menghargai pekerjaannya sehingga mereka bisa memberikan pelayanan terbaik kepada para penumpang di setiap penerbangan yang mereka jalani.

Written by: @dearmarintan
14 February 2014

Dearmarintan is a pen name chosen by a 26 year-old flight attendant who is now working at an airline, based in Jeddah, Saudi Arabia.

Use Facebook to Comment

comments

2 comments

Leave a Reply