Menyoal Gagasan Hijab Pramugari Felix Siauw

sumber foto: @AlFatihStudios

sumber foto: @AlFatihStudios

Beberapa hari belakangan sedang ramai di twitter tentang gagasan Felix Siauw mengenai pramugari berhijab. Gagasan ini sebetulnya bukan hal baru karena di Indonesia sudah ada beberapa maskapai yang menyediakan seragam berjilbab bagi para pramugarinya. Sebagai contoh, Garuda Indonesia untuk penerbangan haji dan umroh serta NAM Air yang merupakan anak usaha dari maskapai Sriwijaya Air.

Kenapa ini jadi topik yang layak diperbincangkan? Sebab Felix Siauw membuat kultwit dan postingan blog tentang seorang pramugari (dari kesan yang gue tangkap, yang dibahasnya adalah pramugari Garuda Indonesia) yang gelisah karena ingin berhenti dari profesinya dan berhijab. Sang pramugari yang oleh Felix disamarkan namanya sebagai Putri curhat kepadanya. Dia mendapatkan hidayah dan ingin memakai hijab. Namun apa daya, ketentuan seragam di maskapai tempatnya bekerja tidak membuatnya leluasa untuk melakukan hal tersebut. Malahan dia harus menghadapi penalti sebesar Rp 75 juta bila memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebelum kontrak kerja berakhir.

Air mata sang pramugari membuat Felix terenyuh. Bersama istrinya yang merupakan pemilik lini usaha @HijabAlila, Felix menggalang gerakan #10rbUntukPramugari. Maksud gerakan ini adalah untuk menolong sang pramugari yang mengaku bukan dari kalangan berada agar mampu membayar uang penalti tersebut. Dengan membayar uang penalti, maka sang pramugari bisa berhenti dari profesinya dan menjadi muslimah yang taat dengan berhijab.

– Cerita tentang pramugari yang ingin berhijab tersebut terangkum dalam serial tweets Felix dan dapat dibaca di sini (chirpstory) atau di sini (blog)

Bersamaan dengan penggalangan dana tersebut, Felix dan sang istri juga mendorong gerakan agar maskapai-maskapai penerbangan di Indonesia membolehkan pramugarinya untuk mengenakan hijab saat bertugas. Hijab yang diusulkan pun hijab syar’i yang sesuai dengan ajaran agama Islam sehingga para pramugari yang mendapat hidayah bisa tetap bekerja tanpa harus merasa khawatir dengan aturan seragam yang bertentangan dengan agama.

Sebagai pramugari yang berbasis di Jeddah, Saudi Arabia, gue merasa tergelitik untuk membahas gagasan Felix ini di blog. Berhubung Felix tidak menanggapi twit gue yang mempertanyakan mengenai beberapa aspek terkait hijab syar’i untuk pramugari, maka gue pun menuangkan pemikiran ini melalui blog pribadi agar para pendukung gagasan tersebut mengerti duduk persoalannya sebelum berpikir macam-macam.

Seragam Pramugari Pakai Hijab Syar’i?

Pada saat melamar menjadi pramugari yang akan ditempatkan di base Jeddah, Saudi Arabia, gue menyadari betul bahwa seragam kerja yang gue kenakan disesuaikan dengan aturan yang berlaku di negara tersebut. Jadi gue tidak keberatan memakai jilbab dan baju tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pun di kehidupan sehari-hari di Jeddah, gue memakai abaya berwarna hitam atau biru gelap serta kerudung untuk menutup aurat. Sebab memang begitulah aturan yang berlaku di Saudi Arabia untuk semua wanita tanpa kecuali, apapun agama dan kewarganegaraannya.

Tentunya Putri sang pramugari yang dimaksud oleh Felix sadar betul bahwa seragam merupakan aturan yang sudah ditetapkan oleh pihak maskapai pada saat pertama kali dia menandatangani kontrak. Seragam dibuat dan ditetapkan oleh pihak maskapai bukan semata untuk aspek keindahan saja, tapi juga sudah dipikirkan secara matang dalam aspek safety (keselamatan), security (keamanan), dan service (pelayanan). Seragam haruslah membuat pramugarinya leluasa bergerak saat melayani para penumpang serta aman dan nyaman digunakan ketika hendak melakukan evakuasi dalam situasi darurat.

Bagaimana dengan hijab syar’i seperti gambar dalam poster yang ramai dikampanyekan oleh Felix dan Hijab Alila? Terus terang, gue geleng-geleng kepala saat membayangkan betapa repotnya pramugari berhijab syar’i saat harus mendorong meal / drink carts dengan memakai baju panjang menjuntai begitu. Gimana kalau bajunya terjepit oleh roda atau terinjak oleh kaki penumpang?

sumber foto: twitter @HijabAlila

sumber foto: twitter @HijabAlila

sumber foto: @AlFatihStudios

sumber foto: @AlFatihStudios

Dengan hijab syar’i seperti itu, bisakah sang pramugari cekatan bergerak dan mengevakuasi penumpang dalam waktu 90 detik saat pendaratan darurat terpaksa dilakukan? Sedikit saja ujung seragam yang terlihat seperti abaya itu terinjak atau nyangkut, maka keselamatan pramugari jugalah yang dipertaruhkan. Dan bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada pramugari tersebut, siapa yang hendak menyelamatkan puluhan nyawa penumpang di zona yang menjadi tanggung jawabnya?

Lalu sudahkah Felix dan sang istri memikirkan kenyamanan sang pramugari saat bertugas melayani penumpang pria yang bukan muhrimnya? Betapa repotnya baik bagi sang pramugari maupun penumpang untuk menghindari kontak fisik selama penerbangan. Sulit pula gue bayangkan bila dalam suatu penerbangan, seorang penumpang membutuhkan bantuan medis segera. Sudah tentu pramugari sebagai yang bertanggung jawab memastikan keselamatan penumpang selama penerbangan untuk melakukan berbagai upaya agar nyawanya tertolong. Bila seorang penumpang pria membutuhkan CPR (cardio-pulmonary resuscitaion) segera, apakah pramugari berhijab syar’i akan sigap melakukannya? Atau malah berpikir dulu dan menanyakan koleganya sesama pramugari yang lain, barangkali ada yang bersedia memberikan nafas buatan berhubung penumpang pria tersebut bukanlah muhrimnya?

Sudah jugakah dipikirkan apakah pramugari berhijab syar’i tersebut melaksanakan tugasnya dengan atau tanpa menggunakan polesan make up dan cat kuku untuk mendukung penampilannya? Seumur-umur gue belum pernah melihat wanita berhijab syar’i yang mengenakan warna-warni make up di wajahnya maupun mengecat kukunya. Sementara grooming adalah salah satu syarat mutlak bagi pramugari saat bertugas. Bukan tanpa alasan pramugari mengenakan lipstik cerah, pemerah pipi, maupun cat kuku. Selain untuk mendukung penampilan, juga demi memberikan kesan segar dan sigap dalam bertugas. Tanyakan mengenai hal ini pada siapapun yang bekerja di dunia hospitality atau customer service, maka mereka akan membenarkan hal ini.

Transparansi dan Tanggung Jawab ke Publik

Okelah, Putri sang pramugari mendapatkan hidayah saat sedang menjalankan tugas dan keberatan dengan seragam yang kini dipakainya. Dan atas nama hidayah pula dia meminta saran kepada Felix mengenai persoalannya tersebut. Dilema antara berhenti bekerja dan membayar penalti, atau melanjutkan tugas namun dengan setengah hati karena merasa berdosa telah mengumbar aurat karena seragam tidak berhijab. Mulia sekali Felix Siauw dan istrinya hendak membantu Putri sang pramugari yang mengaku bukan dari keluarga berada tersebut.

Dari tweet Felix yang memention akun twitter @IndonesiaGaruda dan rancangan hijab syar’i untuk pramugari yang senada dengan warna seragam pramugari maskapai tersebut, wajar bila gue menyimpulkan bila Putri merupakan pramugari Garuda Indonesia. Namun, sebagai seorang pramugari, gue merasa ada yang aneh di sini. Gue tahu berapa kisaran gaji pramugari per bulannya. Untuk maskapai low cost carrier, setidaknya sebulan bisa membawa uang Rp 8 juta – Rp 12 juta. Sementara maskapai full service sekelas Garuda Indonesia, sebulan bisa membawa belasan juta bahkan Rp 20 juta ke atas. Gaji tersebut memang besar, sebab pramugari memegang tanggung jawab yang besar pula dan pekerjaan yang kami lakukan tidak ringan.

Sekarang, izinkan gue bertanya. Berapa tahun sudah Putri terbang sebagai pramugari? Ke mana saja uang yang diperolehnya selama ini dihabiskannya? Bila memang berniat kuat untuk berhenti bekerja demi berhijab, apakah dia tidak sanggup mengumpulkan sebagian dari gajinya demi membayar penalti tersebut? Gue yakin dalam waktu 6 bulan sampai setahun, mengumpulkan penalti dengan gaji sebesar itu mungkin dilakukan. Sambil mengumpulkan uang, toh Putri bisa memakai hijab saat dia nggak terbang. Siapa memangnya yang mau melarang dia berhijab di luar tugas? Perusahaan? Penumpang?

Baiklah, uang penggalangan dana terkumpul dan itu bisa membebaskan Putri dari belenggu penalti. Lalu bagaimanakah Felix Siauw mempertanggungjawabkan penyaluran uang tersebut kepada para penyumbang? Apakah dia akan membuat laporan transparan dan memaparkan berapa jumlah uang yang terkumpul, disalurkan ke mana, kapan dan atas nama siapa? Lalu bagaimana para penyumbang bisa tahu apakah Putri benar-benar mengenakan hijab seutuhnya setelah berhenti dari maskapai tempatnya bernaung sekarang? Apakah Felix, istrinya dan akun @HijabAlila akan terus menyoroti Putri dan memberitahukan kepada followers mereka siapa sosok Putri, kesehariannya, hijab yang dipakainya sehari-hari atau bagaimana?

Sumbangan dalam bentuk apapun, atas nama kemanusiaan atau keagamaan, bila telah melibatkan partisipasi publik dan jumlah uang yang tidak sedikit, maka harus ada pertanggungjawaban pula kepada publik. Sudahkah Felix, istrinya dan @HijabAlila memikirkan hal tersebut? Atau aksi penggalangan dana #10rbUntukPramugari ini spontan dilakukan hanya karena tetes air mata seorang pramugari? Gue nggak kebayang gimana jadinya kalau semua pramugari dalam pesawat yang ditumpangi Felix waktu itu menangis dan meminta saran? Berapa puluh juta yang harus dikumpulkannya untuk membebaskan mereka semua dari penalti maskapai tersebut?

Bila Memang ingin Berjilbab, maka…

Sebaiknya Putri sang pramugari pindah ke maskapai penerbangan haji domestik atau maskapai regular di Saudi Arabia, yaitu Saudi Arabian Airlines. Hanya di negara tersebutlah Putri bisa memakai jilbab sambil tetap berprofesi sebagai pramugari. Namun perlu diingat bahwa negara Islam seperti Saudi pun tidak menetapkan hijab syar’i sebagai seragam pramugarinya. Tentunya seragam tersebut sudah memenuhi aspek safety, security, and service dan pastinya semua pramugari Saudi memoles wajahnya dengan makeup dan mengecat kuku atau mengaplikasikan French manicure sesuai standar grooming yang berlaku di semua maskapai internasional.

Sebagai catatan tambahan bagi pembaca, tidak ada satupun wanita berkewarganegaraan Saudi yang diperbolehkan bekerja sebagai pramugari oleh pemerintah. Sebab berdasarkan hukum yang berlaku di negara ini, tugas mulia wanita adalah menjadi istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Sebagai istri yang baik, wanita Saudi yang sudah menikah tidak bepergian tanpa kehadiran ataupun izin sang suami. Itulah sebabnya gagasan menjadi pramugari, yang jadwal terbangnya tidak menentu serta besar kemungkinan mengalami kontak fisik dan interaksi dengan penumpang pria yang bukan muhrimnya, tidak bisa diterapkan pada wanita Saudi.

Seragam Pramugari Saudi Arabian Airlines (sumber foto: @ramzismology)

Seragam Pramugari Saudi Arabian Airlines (sumber foto: @ramzismology)

Saya bersama teman-teman berpose dulu sebelum berangkat terbang. Ini adalah seragam yang dipakai para pramugari dan pramugara Orient Thai Airlines untuk penerbangan haji / umroh base Jeddah, Saudi Arabia (dok. @dioramadio)

Gue bersama teman-teman berpose dulu sebelum berangkat terbang. Ini adalah seragam yang dipakai para pramugari dan pramugara Orient Thai Airlines untuk penerbangan haji / umroh base Jeddah, Saudi Arabia (dok. @dioramadio)

Terima kasih sudah membaca dan selamat berpikir dengan pikiran dan hati yang terbuka 🙂

Use Facebook to Comment

comments

9 comments

  1. sofia zhanzabila says:

    Menurut saya sih desain seragam berhijabnya aja yang lebih di sederhanain, gak perlu mirip abaya gitu. Jadi, yg berhijab bisa pake plus gak ribet dan yang gak berhijab juga bisa pake dgn nyaman.
    Soal keribetan, seragam pramugari Indonesia yang sekarang juga ribet, panjang, ketat, jalannya juga keserimpet, karena cuma ngandelin belahan di rok. Kan kalau sergam yg digagas Ust. Felix lebih di sederhanain (misal pake celana kayak seragamnya Mbak Dear Marintan), semua juga bisa dapet fifty2 (yg mo berhijab n yg gak).

    • Candra Wiguna says:

      Justru model yang digagas oleh Ustad Felix tentang hijab syari’i memang yang ribet itu, kalau masih pakai celana belum syari’i namanya karena masih menonjolkan bentuk tubuh, katanya berhijab tidak boleh setengah2, jadi harus total, dan itu yang menjadi permasalahan.

  2. dWi says:

    Pemerintah Saudi melarang wanita unt bekerja mjd pramugari…
    Aku teringat waktu dkt dengan seorang yg stay di Jeddah, dia krg suka waktu aku getol melamar sbg fa.
    Tp disini, even dia gk suka dia tdk melarangku spt twit2 ustd ini. Krn pada dasarnya Islam itu indah dan flexible kok.

  3. Nia Haryanto says:

    Hijab Syar’i memang seharusnya sepeti itu. Tapi untuk dipakai pramugari yang bertugas di kapal? Owh… tak hanya ribet, tapi juga mungkin bisa menyusahkan dan membahayakan si pramugari dan penumpang. Ya, misalnya nyangkut di sana-sini.
    Saya kira, jilbab yang dipakai pramugari di dalam foto di atas sudah cukup untuk para muslimah yang ingin berjilbab. Simple, tidak ribet, dan safe untuk dirinya dan juga penumpang. IMHO. ^^

  4. dame says:

    melaksanakan perintah agama sesuai syariat dilindungi UUD’45, harusnya negara mempermudah warganya untuk mengaplikasikan syariat, bukan menghalangi. soal ribet itu cuma ada di pikiran, kalau di lakukan gak ada istilah ribet.

    • Candra Wiguna says:

      Kebebasan itu ada batasnya, kebebasan dibatasi oleh kebebasan orang lain.

      Anda boleh bebas menjalankan ibadah agama, tapi kalau anda mau sholat di rumah saya, saya berhak untuk melarang karena kebebasan anda dibatasi oleh kebebasan saya untuk mendapatkan rasa nyaman atas properti yang saya miliki.

      Anda boleh bebas menjalankan ibadah agama, tapi kalau agama anda mengajarkan untuk membunuh manusia lain di luar golongan agama anda, negara boleh untuk melarang ajaran itu, karena ajaran itu melanggar kebebasan hak orang lain untuk hidup aman.

      Begitu juga kasusnya dengan Pramugari, anda boleh menjalankan ajaran agama tapi anda tidak boleh melanggar kebebasan penumpang untuk mendapat jaminan keamanan saat menaiki pesawat dan kebebasan sang pemilik perusahaan dalam menerapkan aturan di lingkungan perusahaannya.

      Ribet cuma di pikiran??
      Sekalian aja bilang sistem administrasi di Indonesia gak ada yang ribet, ngantre KTP berjam2 dan musti bolak bali kesana kemari namanya gak ribet karena ribet cuma di pikiran, lol

      Mungkin maksudnya subjektif, dan memang ribet gak ribet itu subjektif, menilai ribet gak ribet ya dengan melakukan perbandingan. Kalau membuat KTP ternyata lebih memerlukan banyak proses dibanding membuat kartu pelanggan Indomaret maka wajar mengatakan proses pembuatan KTP itu ribet, begitu juga jika mengunakan hijab syarii lebih menyulitkan gerak dibanding menggunakan pakaian pramugari biasa, maka ya itu namanya ribet.

      *Untuk Mbak Marintan, komentar yang sebelumnya, yang sama persis dengan ini, dihapus saja, salah tempat.

  5. Purwa P. Kusuma says:

    Kalo ngga salah, seorang istri harus patuh pada suaminya. Jika selama suami tidak ada di rumah, n suami melarang istri keluar rumah, maka istri seharusnya patuh. Nah, kalo agama mengharuskan menutup aurat, n maskapai sementara ini aturannya blm mendukung, mba Putri ya harusnya keluar, pinjem duit ato ap gitu, InsyaAllah pasti ada rejeki kalo keluarnya diniatkan atas nama Allah. Buat mba Marintan : kalo emg ada niat, kostum pramugari bisa diubah kok. Pake celana panjang atau ap kek. Yg penting dapet konsepnya, safe, praktis, tp tidak mempertontonkan lekuk tubuh wanita.
    Hmmm. Ini mah urusannya simple.

  6. ambar says:

    suka tulisannya mbak dearmarintan :). mungkin emang lebih ke desain bajunya ya. soalnya klo yg aku liat, di gambar itu ttg hijab syar’i niatnya pengen syar’i sih, tp dari segi safety-nya kurang banget. makanya aku lebih setuju sama model baju yg dipake sama mbak dearmarintan itu :)

  7. Jamil Ihsan says:

    Nice postingan, kaka! 🙂

    Oya, gimana cara bikin social media widget di setiap postingan kaka yak? Soalnya aku juga masih bingung untuk masukin widget tsb di blog aku :3

    Bales via email aja ya ka~ ^_^

Leave a Reply