My Thoughts on MH 370

sumber foto: Elizabeth Wong dan Forum Pramugari (Facebook)

sumber foto: Elizabeth Wong dan Forum Pramugari (Facebook)

Misteri hilangnya pesawat Malaysian Airlines dengan nomor penerbangan MH 370 menjadi bahasan yang ramai dibicarakan sejak kemarin. Bagaimana mungkin sebuah pesawat besar bisa menghilang dari pantauan radar dan ATC (air traffic controller) selama lebih dari 24 jam?

Berbagai kemungkinan pun muncul dan menjadi topik berita di media seluruh dunia. Ada yang mengatakan pesawat tersebut crashed dan mendarat di laut. Ada pula yang menyebut kemungkinan pembajakan di dalam pesawat. Semuanya masih menjadi misteri dan tentunya dengan semakin lama ditemukannya badan pesawat, maka semakin banyak pula rumor yang beredar.

Gue sendiri merasa ada yang aneh dengan hilangnya pesawat tersebut. Namun demikian, gue mencoba menganalisa berbagai kemungkinan yang menyeruak di berbagai media massa mengenai misteri tersebut. Berikut adalah beberapa kemungkinan hilangnya pesawat MH 370 dan pengamatan gue mengenai kemungkinan tersebut.

a. Pesawat Crash di Laut

Ini adalah salah satu kemungkinan yang paling ramai dibicarakan saat berita tentang hilangnya pesawat MH 370 muncul di media massa. Apalagi sejak Vietnam mengabarkan bahwa pesawat tersebut terakhir kali terlihat di wilayah perairan dekat Pulau Ton Chu, Vietnam. Makin ramai ketika media ramai-ramai memberitakan tumpahan minyak yang diduga bahan bakar pesawat di sekitar area pencarian di Laut Cina Selatan. Meski begitu pihak Malaysian Airlines masih belum bisa mengonfirmasi klaim tersebut karena belum ditemukannya puing pesawat.

Banyak banget yang berspekulasi mengenai pesawat jatuh ke dalam laut, karena hilangnya pesawat sebesar itu tanpa jejak memang sulit diterima akal pikiran. Gue sendiri nggak ngerti kok bisa pesawat triple seven yang dikenal sebagai salah satu tipe pesawat dengan keamanan paling baik kok bisa menghilang begitu aja. Apalagi selama nyaris dua dekade terbang sejak diluncurkan tahun 1995, Boeing 777 nyaris ga pernah kecelakaan, kecuali tragedi Asiana Airlines di San Fransisco, Juli 2013 lalu dan sekarang pesawat MH 370 yang udah menghilang lebih dari 24 jam ini.

Kalopun MH 370 mengalami crash dan berakhir di laut, seharusnya bisa ditemukan jejaknya. Sebab di dalam pesawat terdapat ELT (emergency locator transmitter) yang memancarkan distress signal (tanda bahaya) begitu pesawat mendarat di laut.

Oke, taruhlah ELT tersebut rusak atau tidak berfungsi sehingga tidak bisa mengirimkan sinyal. Tapi itu pun tetap janggal, karena di dalam pesawat tidak mungkin hanya terdapat satu unit ELT. Gue nggak tahu ada berapa jumlah ELT dalam pesawat 777 – 200, namun untuk tipe 737, 747, dan 767 terdapat 2 buah ELT dan seharusnya nggak jauh berbeda dengan pesawat MH 370 yang hilang. Kalaupun ada ELT yang rusak, seharusnya diganti atau pesawat dinyatakan tidak layak terbang. ELT dan beragam safety and emergency equipment lainnya yang ada di dalam pesawat pasti diperiksa terlebih dahulu oleh cabin crew sebelum boarding.

Kalaupun pesawat crash di darat, sangat aneh bila tidak ditemukan puing-puingnya. Dan bila ada crash, pasti ada impact. Masa sih bisa nggak keliatan ada ledakan atau penumpang yang berlarian keluar menyelamatkan diri dari pesawat tersebut? Nggak peduli di manapun pesawat tersebut mendarat akibat crash, pastilah keberadaannya tertangkap oleh radar militer atau ATC di manapun lokasi terakhirnya diketahui.

Gambaran peristiwa hilangnya MH 370 (sumber foto: NY Daily News)

Gambaran peristiwa hilangnya MH 370 (sumber foto: NY Daily News)

b. Pesawat Dibajak oleh Teroris

Ini adalah salah satu dugaan yang muncul ketika banyak media memberitakan tentang dua penumpang mencurigakan yang menumpang pesawat tersebut dengan paspor curian dan data diri palsu. Diberitakan bahwa seorang warga negara Italia dan seorang warga negara Austria melaporkan ke pihak berwajib bahwa mereka tidak termasuk dalam daftar korban seperti yang ramai diberitakan. Keduanya pun mengabarkan pada keluarga mereka agar tidak khawatir mengenai keselamatan mereka, sebab mereka tidak berada dalam pesawat yang hilang tersebut.

Pesawat hilang tanpa jejak, dua penumpang dengan paspor curian, dan tidak ditemukannya puing pesawat yang mengindikasikan kecelakaan membuat banyak orang mengira ini adalah aksi terorisme. Bukan hal yang mustahil dugaan tersebut, tapi perlu diingat bahwa membajak pesawat juga bukan hal yang mudah. Dan tentunya untuk melakukan kejahatan luar biasa yang lebih berpotensi pada kecelakaan maut tersebut, sang teroris (or should I say, kelompok teroris? Karena untuk membajak pesawat sebesar itu pastinya dibutuhkan lebih dari seorang pelaku untuk merancang dan menjalankan aksi teror) pastinya memiliki motif dan rencana yang kuat.

Pesawat MH 370 sudah lebih dari 24 jam menghilang tanpa jejak dengan bahan bakar yang hanya cukup untuk terbang selama 7,5 jam. Apakah mungkin teroris beraksi untuk membajak pesawat tanpa mengklaim tindakan tersebut? Teror diciptakan untuk membuat sasarannya takut dan mengalami trauma. Dan sejauh pengamatan gue, pelaku teror biasanya mengumumkan maksud tindakan mereka melakukan pembajakan tersebut. Tentu saja untuk melihat reaksi ketakutan orang, badan, atau negara yang jadi sasaran teror mereka.

Lagipula, kalau memang benar ada aksi pembajakan di dalam pesawat, bukankah seharusnya salah satu dari 12 cabin crew yang bertugas sempat memberikan sinyal kepada flight crew? Bila flight crew menerima sinyal, maka cockpit akan mengunci dirinya secara otomatis dari dalam dan mengirimkan sinyal meminta bantuan lewat radio. Sementara sejak komunikasi terakhir dari cockpit hingga pesawat dinyatakan hilang dan gagal mendarat, tidak ada satu pun tanda bahaya yang dikirimkan oleh cockpit crew.

Beberapa orang di Twitter berspekulasi bahwa pesawat bisa jadi mendarat di bandara lama yang tidak terpakai atau bahkan di daratan yang tidak terdeteksi. Ini logika yang agak aneh. Sekalipun cockpit memutuskan komunikasi dengan sengaja dan tidak melaporkan keberadaan pesawat terakhir kepada ATC, apakah mendaratkan pesawat sebesar itu mungkin dilakukan? Sebab untuk melakukan pendaratan, flight crew harus melapor untuk mendapatkan clear altitude (ketinggian yang aman) sehingga pesawat terhindar dari tabrakan dengan pesawat lain yang terbang di ketinggian yang sama.

Harus diingat juga dalam mendaratkan pesawat, pilot harus memperhitungkan luas runway (landasan), apakah cukup memadai untuk melakukan pendaratan. Katakanlah pesawat berhasil mendarat di suatu tempat, apakah masuk akal nggak ada satu pun radar militer yang menangkap sinyalnya? Pesawat atau benda asing apapun di udara pasti tertangkap pergerakannya oleh radar militer yang dimiliki oleh semua negara di dunia.

Dua spekulasi di atas adalah rumor yang menyeruak setelah hilangnya MH 370 ramai diberitakan. Gue membahas ini di blog karena terlalu banyak rumor yang beredar tanpa dasar pengetahuan yang jelas. Apapun yang terjadi pada MH 370, gue yakin kejadiannya sangat cepat, tidak diduga, bersifat sangat serius dan membuat flight crew maupun cabin crew tidak punya pilihan atau sempat mengirimkan sinyal tanda bahaya. Mudah-mudahan saja pesawatnya segera ditemukan dan meski banyak pihak mengklaim kecil kemungkinannya, semoga ada penumpang dan kru yang selamat.

Bagi seluruh cabin crew maupun flight crew, mari jadikan peristiwa ini pengingat supaya kita selalu belajar dan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan dalam tiap penerbangan. Selalu berdoa sebelum terbang supaya pesawat dalam kondisi baik serta seluruh penumpang dan kru bisa selamat sampai tujuan tanpa kekurangan apapun.

Safe flight wherever you are flying today, guys!

Reading sources:

NY Daily News

CNN

CNBC

Washington Post

Plane Talking

AV Herald

Use Facebook to Comment

comments

2 comments

Leave a Reply