Pak Widodo, Pengangguran yang Hobi Membaca

sumber foto: C.C Centner on pinterest

sumber foto: C.C Centner at Pinterest

Bagi yang sering berkunjung ke blog personal gue, pasti nyadar kalau di blog ini ada kategori khusus berlabel “People”. Yup, tulisan yang masuk dalam kategori ini semuanya bercerita tentang orang-orang yang gue temui dalam kehidupan gue. Sejauh ini orang-orang tersebut hanya sekali saja gue temui dalam interaksi sosial yang mempertemukan gue dengan mereka. Entah itu karena gue lagi naik kendaraan umum atau sedang berada di suatu tempat di mana mereka berada pula saat itu.

Kali ini gue mau bercerita tentang Bapak Widodo. Seorang pria kurus kecil yang gue temui di Gramedia, Grand Indonesia semalam. Seperti biasa, silakan ambil cemilan atau secangkir kopi hangat sebelum menyimak cerita ini 🙂

###

Kamis, 27 Februari 2014
Gramedia, Grand Indonesia

Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri gue sudah menunjukkan pukul 20.45 WIB. Meski sudah melongok berbagai rak buku, gue hanya berhasil menemukan sebuah buku untuk dibeli. Buku nonfiksi tentang panduan menulis kreatif. Sebelum membayar buku itu di kasir, gue menyempatkan diri untuk melihat deretan majalah. Siapa tau ada yang menarik, pikir gue.

Memang benar ada yang menarik perhatian gue. Bukan majalah, tapi sesosok pria kurus kecil yang tengah duduk di lantai berkarpet toko buku ini. Asik bener keliatannya. Wajahnya yang setengah tertunduk karena serius membaca itu terlihat ceria. Gelak tawa kecil terdengar, bikin gue penasaran. Bapak ini lagi baca buku apa sih?

Dengan sedikit membungkuk, gue mengambil sebuah majalah dan sengaja membaca tak jauh dari tempat bapak itu duduk. Ohh, ternyata dia lagi baca buku tentang Jokowi. Sambil membaca majalah, gue memperhatikan gerak-gerik bapak itu. Entah kenapa gue tertarik ingin melihat terus ke arahnya.

Beberapa pengunjung toko buku yang hendak mengambil buku di rak yang menempel di dinding tempat bersandar si bapak, berbalik arah dan memilih melihat deretan bahan bacaan lainnya. Bapak itu terlihat asik dengan bacaannya, nggak menyadari bahwa dia udah ngeblokir jalan di antara dua rak. I really know that kind of feeling. The feeling you will only know when you are deeply drowning in a book that gets your heart. It’s as if the world doesn’t matter, but the book in your hands does.

Pak Widodo sedang asik membaca buku tentang Jokowi

Supaya nyaman baca bukunya, Pak Widodo melepas sepatunya dan duduk bersandar pada rak buku yang menyatu dengan dinding pembatas ruangan.

Saking asiknya memerhatikan si bapak, gue sampai kaget saat dia memanggil gue.

“Mbak, mbak, sini deh,” katanya.

“Saya, Pak?” gue celingukan.

“Ini mbak, saya lagi baca buku Jokowi. Menurut Mbak dia cocok ndak jadi presiden?”

Meski masih bingung dengan celotehannya yang di luar dugaan itu, gue tersenyum aja. Terus terang, gue lagi nggak mood ngomongin politik. Tapi gue tertarik kenapa si bapak ini bisa ada di sini, duduk di lantai toko buku sambil baca buku tentang sang gubernur DKI Jakarta.

“Kalo menurut Bapak gimana? Cocok ndak?” gue bertanya balik.

“Ya cocok, mbak. Nih, coba liat,” dia membalikkan beberapa halaman buku dan menunjukkan sebuah kalimat, “…terkenal karena hobi blusukan dan peduli dengan rakyat kecil.”

“Oh gitu ya, Pak. Terus apa lagi yang udah Bapak baca dari buku ini?”

“Banyak, mbak. Harus cepat bacanya, biar banyak bukunya (yang dibaca).”

“Lho, kok cepat-cepat bacanya, Pak?”

“Saya ini ndak punya uang, tapi kepengin baca, mbak. Makanya cepat-cepat. Apa-apa harus cepat, mbak. Namanya juga orang ndak berduit, hehehe…”

“Bapak suka sama bukunya? Apa mau pilih buku yang lain?”

“Suka, mbak. Buku yang ini suka, buku yang itu juga suka,” katanya sambil menunjuk sebuah buku tentang Jokowi yang dikarang penulis lain.

“Ya udah, coba bapak pilih dulu yang mana paling Bapak suka. Nanti ke kasirnya bareng saya aja ya.”

Si Bapak nggak langsung menjawab. Dia memerhatikan muka gue beberapa saat. Aduh, apa gue salah ngomong ya? Kok gue jadi nggak enak hati dan salting begini diliatin~

“Makasih ya, mbak. Saya ini orang nggak punya, mbak nggak kenal saya, tapi mau beliin saya buku,” katanya dengan pandangan mata berkaca-kaca.

Mungkin karena gue jarang mendengar kata terima kasih keluar dari mulut orang lain, waktu mendengar Bapak itu mengucapkannya gue merasa seperti ingin menangis. Asli, cemen banget. Tapi itulah yang gue rasakan. Entah kenapa, berbelanja buku nggak pernah terasa semengharukan ini.

“Ya udah, Bapak pilih dulu bukunya ya. Terus diliat ini lemnya kuat apa nggak, biar awet bukunya,” gue mengalihkan perhatian supaya nggak jadi cengeng dengan cara mengajari si bapak cara memilih buku yang bagus dan tahan lama.

Tanpa terasa, gue dan si Bapak adalah dua pengunjung terakhir di toko buku tersebut. Kasirnya sudah mematikan komputer yang biasa digunakan untuk mencatat transaksi. Buku belanjaan kami ditulisnya di sebuah nota pembelian.

Gue dan Bapak yang bernama Widodo itu berjalan bersama dari Gramedia hingga akhirnya benar-benar keluar dari Grand Indonesia. Sambil berjalan, kami mengobrol cukup banyak. Dari ceritanya, Bapak Widodo sampai ke mall megah tersebut dengan cara menumpang beberapa kendaraan dan berjalan kaki dari Depok. Dia ke Depok bermaksud menemui kawannya yang menjanjikannya untuk memberinya pekerjaan.

Lelaki kelahiran 20 Oktober 1962 itu sayangnya nggak berhasil bertemu dengan sang kawan yang ternyata sudah pindah alamat. Kecewa, dia pun hendak menuju Blok M ke tempat kerabat jauhnya yang jadi pelayan di warung ayam bakar. Tapi baru separuh perjalanan ditempuhnya karena kakinya sakit, jadi dia berhenti sebentar di sebuah mesjid di area Kebon Kacang untuk beribadah dan beristirahat sebentar.

Saat melihat bangunan Grand Indonesia dan Plaza Indonesia yang menjulang tinggi, dia terpikir bahwa di dalam mall tersebut pastilah ada toko bukunya. Maka dari hasil bertanya kanan-kiri, dia memilih ke Grand Indonesia yang kata tukang ojek dan penjaga warung makan yang diajaknya bicara, masih lebih baik dan lebih ramah petugas keamanannya dibandingkan dengan yang di Plaza Indonesia.

Meski harus sedikit nyasar karena katanya tidak semua pengunjung mall yang ditanyainya mau membantu menunjukkan letak toko buku, Pak Widodo akhirnya sampai juga di Gramedia yang letaknya di lantai 3 East Mall Grand Indonesia. Dan di situlah kami bertemu.

Kami harus berpisah jalan karena gue harus buru-buru pulang mengingat malam sudah semakin larut. Pak Widodo menyampaikan salam perpisahannya sambil menyeruput kopi dan menikmati popmie yang dijual mbak-mbak bersepeda yang biasa nangkring di bahu jalan di depan Plaza Indonesia.

Semalam gue pulang dengan banyak hal berlarian di dalam benak. Gue nggak ngerti kenapa gue harus bertemu dengan Pak Widodo, tapi gue yakin itu bukan sekedar kebetulan. Mungkin Tuhan dengan caranya sendiri menyuruh gue untuk lebih bersyukur akan apa yang gue miliki. Despite all the problems I have been through lately, I still have a decent life.

Gue nggak perlu mengkombinasikan jalan kaki berpuluh-puluh meter jauhnya dan menumpang kendaraan umum gratis hanya untuk menuju suatu tempat. Di saat ingin baca buku, gue bisa dengan mudah mampir ke toko buku terdekat dan membeli buku yang gue inginkan. Dan gue punya pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk hidup gue dan juga membantu keluarga gue.

Sementara Pak Widodo nggak punya semua itu, tapi dia masih bisa tersenyum dan nggak lupa untuk mengucapkan rasa syukurnya atas buku hadiah dari gue. Hal yang menurut gue sepele, tapi ternyata berarti banyak buat dia.

Pak Widodo adalah cara Tuhan menegur gue untuk tetap bersyukur dan nggak banyak mengeluh. Mungkin juga, teguran bagi gue yang belakangan mulai kendur semangat membacanya. Apapun itu, gue bersyukur karena udah diberi kesempatan bertemu dengan dia hingga menginspirasi gue untuk menulis postingan blog ini.

Pak Widodo, semoga segera dapat pekerjaan ya. Biar bisa beli buku yang banyak dan membaca tanpa tergesa-gesa lagi seperti semalam…

Use Facebook to Comment

comments

16 comments

  1. Dwi Ulan says:

    Hal-hal kecil yg sangat menyentuh yg terkadang terlupakan dari segi sosial hidup ini. Tapi itulah realita, perjuangan yang tak mudah..
    Keren tan.. melihat, berbicara dengannya, dan memberikan pelajaran menarik untuk kita.

    • dearmarintan says:

      @Dwi: Gue baru belakangan ini mulai nulis tentang orang-orang di sekitar, Wi.. gue ngerasa ada panggilan untuk lebih memerhatikan orang lain dan jadi lebih manusiawi.. mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat buat semua orang yang baca 🙂

  2. catatan kecilku says:

    Wah… terharu banget bacanya.
    Sayang di negeri ini harga buku mahal sekali sehingga banyak yang tak terjangkau oleh rakyat kecil.
    Semoga pemerintah memiliki kebijakan untuk membuat buku murah, agar semua rakyat bisa membaca dan makin pinter.

    • dearmarintan says:

      @Catatan Kecilku: harga buku sebenarnya standar, bahkan kalo dibandingkan dengan di negara-negara lain, harga buku di Indonesia termasuk murah.. yang jadi masalah bukan harga bukunya tapi pendapatan tiap orang dan skala prioritas dalam hidup yang membuat mereka nggak bisa beli buku.. contohnya seperti Bapak Widodo ini.. setuju dengan pendapatmu bahwa pemerintah harus ngasih subsidi supaya harga buku jadi lebih terjangkau oleh semua kalangan. Atau setidaknya memperbanyak perpustakaan dan taman bacaan gratis yang bisa diakses oleh semua orang..

    • dearmarintan says:

      @Alid: meleleh kenapa? hehehe, jangan nangis, Lid.. tulisan ini tujuannya bukan buat bikin orang jadi sedih, tapi biar yang baca semakin memanusiakan sesama manusia.. semoga bisa menginspirasi banyak orang untuk saling membantu sesama 🙂

    • dearmarintan says:

      @Sie-thi Nurjanah: aku juga dulu ga begini, mba Siti.. sampe suatu kejadian menyadarkan aku kalo aku mulai berkurang kepekaan sosialnya, jadi ya kuputuskan untuk lebih bersikap ramah dan manusiawi.. lebih menghargai sesama manusia, terlepas dari siapapun orangnya, kenal atau nggak, kaya atau miskin, dll.. ayo, mba Siti juga coba deh, pasti bisa 🙂

  3. rahmi says:

    Wah mbak terharu aku ngeliat potonya, sukaa banget… si bapak meskipun ngga “punya” tapi tetep semangat menambah pengetahuan dengan membaca. Iyah moga cepet dapet pekerjaan, berpenghasilan cukup untuk hidup dan membeli buku 🙂

  4. Arifah Abdul Majid says:

    wah menyentuh mak ceritanya :'(
    kita belajar banyak dari Pak Widodo ya.. sekalipun belum bs beli buku karena ga ada uangnya, tapi beliau punya semangat membaca, sampe bela2in nongkrong di Gramedia demi baca buku gratis..

  5. sofia zhanzabila says:

    Maakkk…dirimu membuatku menangis di malam hari. Cerita yang sangat menyentuh. Pak Widodo, belajar banyak darinya. Semoga Tuhan segera mempermudah jalannya untuk segera mendapatkan pekerjaan. Terimakasih Mak udah menulis kisah yang inspiratif sekali :))

  6. Uniek Kaswarganti says:

    Ceritanya sangat menyentuh, Mba. Bener banget deh, Tuhan punya banyak cara untuk mengingatkan kita ya. Saya jadi merasa diingatkan juga nih melalui tulisan ini untuk banyak2 bersyukur, tidak perlu sering2 mengeluh, toh hidup yg saya jalani sepertinya tidak seberat yg dialami Pak Widodo itu. Thks for share ya Mba 🙂

  7. Dea says:

    Aaah, this is lovely, people are very unique in every certain way… I used to meet people like this, but never thought of writing them

  8. john harrys says:

    kisah yang sangat menginsprasi, kadang Tuhan menegur kita dengan sangat halus agar kita tetap bersyukur buat apa yang kita terima saat ini.
    GBU

Leave a Reply