Pengalaman Bikin Teh Horor buat Capt. R

sumber foto: www. big-active.pl

sumber foto: www. big-active.pl

Selama terbang sebagai pramugari gue bertemu dengan beragam jenis orang. Orang-orang yang gue temui memiliki beragam karakter yang berbeda dan tentunya ini menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Tentunya orang-orang yang gue maksud nggak hanya penumpang, tapi juga flight crew yang bertugas bersama gue. Salah satu di antara banyak sosok menarik yang gue temui, adalah seorang pilot senior asal Mumbai, India yang gue yakin juga meninggalkan kesan tersendiri di antara crew lainnya yang pernah terbang bareng dia.

Pria berinisial R ini benar-benar unik. Gue selama terbang dengan banyak pilot lainnya jarang-jarang mendapat pengalaman berkesan selepas melayani mereka makan dan minum. Tapi dengan Capt. R, gue malah belajar hal baru, yaitu cara membuat teh yang cantik dan sempurna, namun dengan sedikit nuansa horor dan ceria. Hah, kok bisa begitu? Yuk, ambil dulu cemilannya sebelum lanjut baca cerita gue :p

Gue bertugas bersama Capt. R saat memasuki musim terbang haji. Gue lupa apakah itu fase pemulangan atau pemberangkatan jamaah haji asal Indonesia. Yang jelas waktu itu gue kebagian tugas di upper deck bersama seorang senior yang baik bernama Monik. Dan nggak tanggung-tanggung, kami terbang selama seminggu untuk rute bolak-balik tiga kota yaitu Jeddah, Jakarta, Madinah.

Sebelumnya, baik gue maupun Monik udah pernah denger cerita-cerita tentang Capt. R ini. Beragam cerita yang kita denger tentang beliau. Menurut testimony crew lainnya, doi orangnya serius, sedikit menyeramkan, dan banyaaak banget permintaannya. Seandainya Capt. R bisa dianalogikan dengan soundtrack film kartun, maka beliau mengingatkan gue pada lagu tema Doraemon yang disenandungkan merdu, “ingin ini, ingin itu, banyaaak sekaliiiiii~”

Maka begitu tau gue dan Monik kebagian tugas di upper deck, kami berdua tatap-tatapan penuh makna. Alamak! Naga-naganya soundtrack Doraemon bakal terngiang-ngiang di kepala kami berdua. Syukurlah Monik anaknya soleh dan rajin solat, karena dengan bijaknya dia menenangkan hati gue.

“Tenang aja, Tan. Siapa tau dia orangnya baik dan nggak seperti yang dibilang orang lain,” demikian kira-kira air penyejuk yang mengalir dari bibir mungil Monik waktu itu.

Okelah, walaupun gue masih ngeri ngebayangin gantian jaga dan ngurusin cockpit crew barengan Monik selama seminggu, gue berusaha melihat sisi positifnya. At least, gue nggak sendirian kebagian tugas ini.

Berhubung gue ditempatkan di right upper deck (UDR), maka tugas utama gue selain bertanggung jawab soal galley, menyiapkan beverage cart dan masukin makanan ke dalam oven, gue harus ke main deck buat ngebantu crew di bawah saat tiba waktunya welcome drink and hot meals service.

Monik adalah senior yang sudah lebih dulu bergabung di maskapai tempat gue bekerja. Otomatis ritme kerjanya lebih cepat dan lebih baik daripada gue yang masih baru. Gue seneng bisa dipasangin kerja sama Monik karena orangnya baik dan nggak judes kayak beberapa senior lainnya. Namun, gue lupa bahwa dalam setiap long haul flights, setiap crew pasti dikasih jatah istirahat. Nggak mungkin juga kan, terbang Jakarta – Jeddah 9 jam tapi nggak tidur? Maka begitu tiba giliran Monik istirahat, gue mendapati bahwa gue sendirian yang harus ngurus cockpit crew selama kira-kira 2 jam ke depan.

Oh, Tuhaaaannn… Semoga Capt. R nggak banyak permintaan pas giliran gue jaga!!

Gue tau permohonan gue nggak terkabul saat Capt. R menelepon ke upper deck galley interphone.

sumber foto: joneswetrust.tumblr.com

sumber foto: joneswetrust.tumblr.com

“Hello, could you please come to the cockpit now?” kata Capt. R di seberang kabel.

Glek! Gue menelan ludah. “Will be right there, Capt. Thank you.”

Sesampainya di dalam cockpit, gue melihat Capt. R dan sang first officer yang duduk di sebelahnya berwajah suntuk. Antara mengantuk atau kelelahan. First officer segera memesan kopi hitam dengan sebungkus gula tanpa pemanis buatan. Bagaimana dengan Capt. R? Gue menatap was-was saat dia mengeluarkan sebuah mug kecil berwarna putih dari dalam tasnya. Hati gue menciut. Bikin minuman aja kok auranya horor begini ya?

“I’m going to tell you how to make my tea and you have to make it precisely like I said. Okay?”

“Okay, Capt.”

“Are you ready?”

“I am ready, Capt.”

“Are you listening?”

Dalam hati, “Ngana pikirrrr????”, yang terucap di bibir, “Yes, I am listening, Capt.”

Gue pun mengeluarkan notebook kecil dan segera mencatat teh permintaan sang supir pesawat. Dan beginilah hasil catatan gue.

Teh a la Capt. R

Komposisi
– Dua kantong teh Dilmah
– Setengah sachet gula tanpa pemanis buatan
– Satu sachet creamer

Cara bikinnya
– Tuang air panas ke dalam mug. Diamkan selama tepat satu menit.
– Setelah semenit, buang airnya. Masukkan dua kantong the Dilmah dan tuang air sebatas garis mug yang telah ditentukan. Diamkan selama tepat dua menit, tutup mug dengan service tissue yang baru dan bersih.
– Setelah dua menit berlalu, celup-celupkan kantong teh yang sudah mulai larut itu beberapa kali. Masukkan gula dan creamer sesuai takaran yang diminta.
– Aduk tehnya lalu bersihkan buih yang mengambang di atasnya. Tutup lagi tehnya dengan service tissue yang baru dan bersih, kemudian segera antarkan ke cockpit sebelum jadi dingin.

Jangan anggep sepele dengan urusan semenit-dua menit dalam proses pembuatan teh ini, karena entah kenapa Capt. R bisa tau kalo kita melenceng beberapa detik dari instruksinya. Gue sampe berpikir, apa doi nyetel stopwatch ya waktu gue ke galley?

Dan sesampainya gue di cockpit, Capt. R menyuruh gue duduk di first officer observer’s seat. Dia menyeruput tehnya, sementara jantung gue kayak mau lompat keluar. Bikin minuman buat cockpit crew nggak pernah semenyeramkan ini.

“Do you know who can make the best tea like what I said?”

“No, Capt. Who?”

“Me. Myself. I can make a better tea,” katanya dengan wajah serius.

“Make a new one,” Capt. R menyorongkan mugnya ke gue, hanya setengahnya saja yang diminumnya.

Soundtrack Doraemon terasa bergaung di kepala gue dengan riang ceria selagi gue menuju ke galley untuk membuat teh yang baru.

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekaaalliiiii~”

*Note: Kali berikutnya, Capt. R meminum habis teh buatan gue, ga tau karna udah bener cara gue bikinnya atau dia emang haus aja. Seiring waktu, gue pun jadi hafal cara bikin teh spesial dia yang bener. Gue menempel sticky note di galley untuk crew lain yang bertugas jaga cockpit saat ferry flight agar mereka bisa membuat teh dengan baik. Tapi tetap aja, semuanya kebagian dengerin soundtrack Doraemon sambil bikin teh baru, hehehe~

Anyway, setelah seminggu terbang dengan Capt. R, gue dan Monik serta dua crew lainnya menyimpulkan bahwa Capt. R orang yang baik dan sebenarnya dia hanya ingin mengetes kita aja, kuat mental apa nggak, hahaha~ Bukti bahwa doi baik adalah dia memberikan wejangan kebapakan kepada gue dan beberapa crew lainnya tentang hidup dan kerja di dunia airlines. Thanks a lot, Capt! Safe flight always 😀

Use Facebook to Comment

comments

7 comments

    • dearmarintan says:

      @Noe: hahahaha, iya kali, mak :p tapi aku juga akhirnya nyobain bikin teh a la dia nih, ternyata rasanya enak juga.. sambil bikin harus konsentrasi penuh ya, mak, jangan sampe kelebihan menit-menit pas ngerendam mug dan nuang air panas buat nyeduh tehnya.. soalnya emang ternyata rasanya jadi beda dikit kalo ga sesuai sama instruksinya dia.. selamat mencoba 🙂

    • dearmarintan says:

      @Riski: teh Dilmah yang original aja kok, hehehe.. ini ga beli say, teh Dilmah selalu ada di semua beverage pack di tiap pesawat Saudia Airlines.. tehnya emang enak sih, tapi kalo menurutku masih lebih enak Teh Botol atau Sariwangi, hahahaha #seleralokal

Leave a Reply