Pak Nizar, Supir Taksi yang Melek Politik

sumber foto: londonwebguide.co.uk

sumber foto: londonwebguide.co.uk

Gue bukan orang tajir yang tiap ke mana-mana mesti naik taksi. Tapi ada beberapa saat tertentu yang membuat gue lebih nyaman dan memilih moda transportasi umum ini. Misalnya saat gue mau ada janji penting dan harus menuju tempat yang gue kurang paham lokasinya di mana. Atau juga saat gue lagi dandan super rapi dan nggak mau penampilan gue jadi bahan tontonan penumpang lain kalau gue naik bus atau angkot.

Naik taksi, di luar dugaan, jadi hiburan tersendiri bagi gue. Karena untuk beberapa saat selama perjalanan, gue bisa terlibat obrolan seru dengan sosok yang berada di balik kemudi. Supir taksi, bagi sebagian orang, mungkin bukan teman perjalanan yang ideal. Banyak yang memperlakukan mereka sebagai kompas. Tinggal sebut tempat, pokoknya nggak mau tau caranya, harus nyampe dalam waktu cepat dan nggak pake nyasar.

Bukan hal yang salah sepenuhnya, karena banyak orang yang naik taksi memilih menempuh perjalanannya dengan nyaman dan tanpa banyak basa-basi. Sering kali orang naik taksi bukan karena kenyamanannya, tapi karena privasi yang ditawarkan. Nggak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain seperti di Metro Mini, duduk pun nggak perlu mepet ala ikan sarden seperti di angkot. Nggak perlu khawatir ada copet atau pengamen yang mengancam akan menjambret kalau nggak dikasih recehan.

Itu semua bukan hal yang salah. Hanya saja, gue lebih bisa menikmati kemacetan Jakarta kalau gue ngobrol dan bertukar pendapat dengan supir taksi yang gue tumpangi. Para supir taksi adalah manusia yang juga punya kehidupan. Bahkan, menurut gue, cerita hidup mereka bisa jadi lebih menarik dibandingkan kebanyakan orang, karena mereka bertemu dengan puluhan orang berbeda tiap harinya. Puluhan penumpang yang membawa kisah tersendiri saat mereka menumpang taksi yang dikemudikannya.

Berhubung cerita mereka semua menarik, gue memutuskan untuk mulai menulis obrolan gue dengan para supir taksi yang gue tumpangi. Ini semata sebagai bahan refleksi bagi diri gue sendiri, dan semoga juga bagi pembaca blog gue. Supaya kita lebih menghargai hidup dan memperlakukan sesama manusia, apapun profesinya, dengan lebih manusiawi.

Selamat membaca kisah pertama gue dengan seorang supir taksi bernama Bapak Nizar, berikut ini.

###

6 Februari 2014
Express Taxi
Bapak Nizar K.
DP 82XX

Saat mengambil taksi ini, gue berada di Blok M dan hendak menuju Clay Hotel di Jalan Blora, Jakarta Pusat untuk sebuah meeting. Gue disapa dengan ramah oleh seorang bapak berusia sekitar 40-an tahun. Berhubung gue ada janji penting di tempat yang akan gue tuju, gue nggak berpikir akan terlibat pembicaraan dengan sang supir taksi. Tapi kemacetan lalu lintas di jam makan siang rupanya memberi gue sedikit ruang untuk berbincang dengan bapak yang ramah tersebut.

Awalnya, si bapak mengawali pembicaraan seputar kondisi Jakarta yang dilanda hujan deras dan banjir. Mau ke mana-mana susah sekarang, katanya. Sebab berbagai ruas jalan pasti macet dan licin karena genangan air.

“Tapi mendingan sekarang lho, Pak. Jumlah titik banjir Jakarta agak berkurang sejak (di bawah pemerintahan) Jokowi,” kata gue yang tanpa sadar tiba-tiba membela Gubernur DKI sekarang.

“Iya, betul. Bagus itu Jokowi. Saya kira dia bisa, neng, jadi presiden.”

“Tahun ini, Pak? Apa nggak kecepetan? Baru juga kemaren jadi gubernur.”

“Lho, emang mau kapan lagi, neng? Nungguin lima tahun lagi, keburu ancur negara kita,” katanya.

Gue pun tertawa mendengar pembelaan Pak Nizar. Bukan berarti gue meragukan kepemimpinan Jokowi sebagai presiden. Siapa sih yang nggak kenal gubernur kurus ceking yang demen musik metal ini? Kayaknya dari Sabang sampe Merauke tau Jokowi deh. Setiap hari wajahnya muncul di program berita televisi dan halaman-halaman utama surat kabar seluruh Indonesia. Dan kemunculan Jokowi sebagai media darling bukannya tanpa alasan. Mantan Walikota Solo itu dikenal sebagai pekerja keras yang berhati lembut dan cinta masyarakat.

Bapak Nizar ini melanjutkan argumennya tentang mengapa Jokowi harus jadi presiden tahun ini. Dari Jokowi dia panjang lebar menjelaskan bobroknya birokrasi di Indonesia dan mengapa negara ini perlu lebih banyak sosok model Jokowi yang lainnya. Sosok yang mau bekerja keras, turun ke lapangan, dan nggak sekedar ngomong. Dari Jokowi, kami sempat ngobrol soal tokoh-tokoh dan isu politik lainnya. Dari Jokowi, kami sempat ngobrol tentang beberapa nama capres dari berbagai partai dan kans mereka jadi presiden, juga tentang kasus-kasus korupsi di beberapa partai dan lembaga pemerintahan.

Gue salut dengan pengetahuan politik Pak Nizar. Sebagai bekas wartawan yang pernah bertugas di desk politik dan hukum, gue merasa seperti sedang berbicara dengan seorang editor berita. Bahasanya lugas dan argumennya masuk akal. Ketemu supir taksi yang mengikuti isu politik terbaru bukan hal yang luar biasa bagi gue. Ada banyak supir taksi di luar sana yang gemar baca koran dan majalah. Gue yakin kegemaran mereka membaca pun jauh melampaui para mahasiswa sekarang yang demennya nenteng buku berat buat gegayaan dan fotokopi materi kuliah yang entah kapan dibacanya.

Yang menjadi spesial dari obrolan dengan supir taksi berpengetahuan politik kali ini adalah keberaniannya untuk berpendapat. Juga pengamatannya tentang isu-isu tertentu yang dia pahami bahwa itu hanya setiran media atau bukan esensi sebenarnya dari sebuah pemberitaan. Menurut gue, pemahaman seperti ini hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang rajin membaca berita dan punya kemampuan analisa tinggi. Nggak banyak orang awam mengerti proses pembuatan berita maupun keputusan redaksi dalam mengangkut suatu tema. Dan Pak Nizar, seorang supir taksi Express, mengerti itu. Ini baru keren.

Selain pengetahuannya tentang isu terkini, ada hal lain yang bikin gue salut sama Pak Nizar. Dari ceritanya, gue pun akhirnya mengetahui bahwa dia memiliki seorang putra lulusan S2 dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Gue pun bertanya bagaimana perjuangan sang bapak sampai bisa menyekolahkan anaknya setinggi itu.

“Kerja keras, neng. Tapi intinya sih, saya mau anak saya sukses dan lebih hebat daripada saya. Makanya saya cuma punya anak satu. Coba kalau anak saya banyak, apa bisa saya sekolahin mereka semua sampai S2?” katanya.

Bener juga, sih.

“Ya, seandainya semua orang berpikiran seperti Bapak,” timpal gue.

Pria yang ternyata sudah berusia 60-an tahun itu hanya tertawa. Dia meneruskan ceritanya tentang sang putra yang baru-baru ini menyicil rumah seharga Rp 600 jutaan di bilangan Bintaro. Sekali lagi gue berdecak kagum. Keren aja ngeliat seorang pria yang secara profesi mungkin tidak sementereng pria yang kerja kantoran, tapi ternyata bisa menyekolahkan anaknya hingga berhasil seperti itu. Kini yang dicari Pak Nizar adalah calon menantu yang baik untuk anaknya. Lagi-lagi gue tertawa. Gue bilang sama beliau untuk tenang, karena pria berkualitas dengan sendirinya menarik perhatian banyak wanita. Tinggal pilih aja mana yang berkualitas dan cocok sebagai pendamping hidup.

Nggak terasa, gue sudah sampai di depan Clay Hotel. Pembicaraan kami pun harus berakhir sampai di sini. Pak Nizar yang beberapa saat sebelumnya menanyakan profesi gue, memberikan nomor telepon rumahnya supaya bisa gue hubungi sewaktu-waktu bila memerlukan jemputan atau sekedar bersilaturahmi.

Sebelum beranjak keluar, gue sempat bertanya pada Pak Nizar.

“Bapak udah pernah umroh atau naik haji?” yang dijawabnya dengan gelengan polos.

“Nih, ongkosnya ya, Pak. Sekaligus kenang-kenangan buat Bapak. Anggep aja ‘pancingan’, supaya Bapak bisa segera berangkat ibadah ya,” kata gue sambil memberikan selembar uang Riyal yang diselipkan bersama ongkos perjalanan gue.

Pak Nizar tersenyum senang dan mendoakan gue supaya janji penting hari itu berjalan lancar. Gue lebih senang lagi saat melihat betapa sebuah hal kecil bisa membuat orang lain menjadi penuh harapan dan tersenyum bahagia.

Use Facebook to Comment

comments

6 comments

    • dearmarintan says:

      @Ranii Saputra: Iyaaaa! Itu juga yang aku pikirin! Ga banyak orang jaman sekarang yang bisa sekolahin anaknya sampai S2, apalagi kalau latar belakang ekonominya kayak Bapak Nizar ini.. hebat ya, perlu dicontoh nih 🙂

  1. noe says:

    wew.. keren nih supir taxi
    tapii, balik ke prinsip masing2 individu sih, nggak semua berprinsip kaya si supir taxi ini, tapi masing2 pasti punya alasan. Ada tuh yg prinsipnya banyak anak banyak rejeki, ada juga banyak anak krn tujuannya ngebanyakin generasi utk dicetak sebagai ulama, atau b atau c. yg penting berani tanggung jawab aja atas keputusannya. ya nggak! jgn asal bikin lalu anak ditelantarkan
    eaaa.. banyak banget gue komentar 😆

    • dearmarintan says:

      @Noe: bener, mak.. ga semua orang berprinsip kayak bapak ini karena pastilah latar belakang ekonomi, pendidikan, dan cara dibesarkan berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Itu makanya pentingnya pendidikan dan pengalaman hidup yang beragam seperti ini. Makanya saya rasa, bapak Nizar dan juga supir taksi lainnya adalah golongan orang-orang bijak yang belajar dari pengalaman dan tentunya dari para penumpang yang mereka antarkan 🙂

      Setuju dengan mak Noe, soal bertanggung jawab mengurus anak dan mendidik mereka jadi lebih baik 🙂

Leave a Reply