Apa Sih Untungnya Ngatain Orang Gemuk?

I wish I were a cat

Lama nggak ketemu dengan seorang teman atau kenalan, udah pasti ada beberapa perubahan dalam diri orang itu yang kita sadari. Entah gaya rambut baru, penampilan jadi lebih kece, atau hal lainnya yang berubah. Wajar aja kalau dalam sebuah reuni, kita ngeliat temen jadi lebih cantik, ganteng, kurus, atau gemuk daripada sebelumnya.

Gue juga sering merhatiin perubahan fisik orang-orang yang gue kenal, terutama temen-temen akrab. Tapi semua opini yang ada saat gue ngeliat perubahan ini nggak selalu gue ungkapkan ke orang yang bersangkutan. Kecuali kalo perubahannya itu bersifat lebih baik dan positif.

Misalnya, seorang teman yang dari dulu dikenal selalu berambut panjang tiba-tiba tampil beda waktu datang ke reuni dengan berambut bob pendek. Kalo rambut barunya ini bikin dia keliatan makin keren, gue nggak akan ragu buat muji dia dan bilang secara langsung. Mungkin juga gue akan bertanya, “Di salon mana nih potong bobnya?”

Tapi kalo seandainya penampilannya nggak bagus atau potongan rambutnya kurang cocok dengan bentuk mukanya, gue akan menyimpan opini itu untuk diri gue sendiri. Gue nggak akan ngomong hal ini ke teman tersebut karena selain nggak guna, itu hanya akan bikin dia ngerasa nggak pede.

Tapi rupanya, nggak semua orang punya tali kekang di mulutnya. Terkadang gue ketemu sama orang-orang yang dengan tanpa kendali, mengucapkan opini negatifnya tentang perubahan seseorang bahkan tanpa diminta. Kemarin terjadi sesuatu yang mengingatkan gue bahwa beberapa orang perlu puasa bicara di depan umum.

Kejadiannya begini…

Gue lagi berjalan ke sebuah ruangan di mana saat itu ada banyak kolega gue, sesama flight attendant baik pria dan wanita, yang sedang berkumpul. Ada yang lagi ngobrol, ada yang lagi nulis-nulis. Saat gue datang bersama seorang teman, salah satu di antara mereka, seorang cewek yang gue kenal tiba-tiba menolehkan pandangannya ke arah gue sambil ngeliatin penampilan gue dari dekat. Dia lalu berkata, “Ih, gemuk ya dia sekarang. Gemuk banget.”

Saat itu juga kedua bola mata gue kayak mau copot dari rongganya. Gue syok denger komentar itu. Gimana nggak syok kalo kemudian beberapa pasang mata lainnya di ruangan kecil itu melihat ke arah gue. Bahkan ada yang senyum-senyum pula. Nggak tau deh senyum karena senang ngeliat kehadiran gue atau senyum karena mengamini kata-kata cewek itu tadi.

Asal tau aja ya. Cewek yang ngomentarin pendapat gue itu bukanlah teman akrab gue. Gue dan dia hanya saling kenal dan kebetulan kita punya beberapa teman yang sama karena masih dalam lingkaran pergaulan yang berdekatan. Gue nyadar memang belakangan ini gue gemukan karena libur terbang. Tapi penting banget ya dia ngomong begitu di depan banyak orang? Harus banget ya dia ngomong begitu?

“Iya tau, tapi nggak mesti diomongin juga kan?” kata gue ke cewek itu dengan tajam. Kalo gue nggak inget lagi berada di mana dan dalam kepentingan apa, pengen banget rasanya gue telen tuh orang. Dia nggak tau apa ya, orang Batak sebelum kenal agama dulunya kanibal lho~

Sebagai cewek dengan profesi yang menuntut pentingnya penampilan, berat badan itu hal yang sensitif untuk dibahas. Gue pun, tanpa harus diomongin orang lain, sadar apa yang harus gue lakukan untuk balik ke berat badan yang ideal seperti dulu. Gue diet, gue ngurangin makan, dan menghindari konsumsi makanan berminyak, goreng-gorengan, late night snack, dan banyakin minum air putih sama makan makanan berserat. Intinya, gue nyadar dan gue berusaha sekuat tenaga gue untuk kembali in shape.

Gue bukannya nggak terima saran dan kritik, tapi pastinya gue akan menerima dengan terbuka dan senang hati kalo disampeinnya baik-baik dan empat mata. Bukan dikomentarin di depan semua orang begitu. Were you trying to humiliate me or what?

Woman, please, if you’re reading this somehow, I’d like you to know..

Elo itu nggak akrab sama gue, temen baik juga bukan. Ada atau nggak adanya elo di hidup gue, gue masih bisa hidup dan akan baik-baik aja. Kalo elo mau komentarin penampilan gue demi kebaikan gue, bukan begitu caranya. Apakah dengan ngatain gue gemuk akan membuat lo terlihat lebih langsing dan lebih cantik daripada gue? Asal lo tau aja, gue juga nyinyir dan judgemental, tapi mulut gue masih punya filter.

Gue tau kapan harus ngomong, kapan harus ngekang lidah gue. Gue berpikir dulu sebelum berbicara. Nggak semua orang suka dengerin apa yang lo omongin dan nggak semua hal yang lo omongin itu penting. Jadi sebelum lo buka mulut, mending lo mikir dulu hal-hal berikut ini.

“Is it true?”
“Is it kind?”
“Is it necessary?”

Kalo apa yang mau lo omongin itu jawabannya nggak sejalan dengan tiga pertanyaan di atas, mendingan lo ikut sekolah kepribadian atau puasa bicara sekalian. And fyi, lo harus buka mata lebar-lebar dan ngeliat ekspresi muka orang waktu dengerin omongon lo.

Put yourself in one’s shoes first or at least buy a very huge mirror and see your own reflection before judging others.

juri miss universe

Use Facebook to Comment

comments

Leave a Reply