Nikah Muda, Pikir-pikir Dulu Deh!

pin_mar1

Gue nggak ngerti dengan orang-orang yang berpikiran untuk menikah muda. Apalagi mereka yang secara finansial masih megap-megap kondisinya. Ya okelah, cinta satu sama lain dan ngerasa udah yakin kalau pasangannya itu adalah “the one”. Ada juga yang bilang, lebih baik menikah daripada kelamaan pacaran. Nggak baik, bisa menimbulkan fitnah atau malah berujung zinah. Yang bikin kuping lebih gatel lagi, kalo udah umur 20-an dan belom ada tanda-tanda menikah, tetangga dan keluarga besar mulai kasak-kusuk sambil memberi label “nggak laku atau perawan tua”.

Alasan-alasan itu menjadi tameng yang sering banget gue denger dari banyak orang muda yang memutuskan nikah muda. Gue sih pada dasarnya nggak mau ikut campur urusan orang lain. Dia mau nikah kek, mau cerai kek, itu kan hidup pribadi dia. Urusan dia. Tapi hal ini cukup mengganggu gue juga ternyata dan mau nggak mau jadi bahan pikiran gue semenjak gue banyak melihat undangan pernikahan di Facebook selama at least dua tahun terakhir.

Makin meningkat frekuensi gue memikirkan hal ini saat dua orang teman gue (yang satu umur 18 tapi bentar lagi 19 tahun dan yang satu lagi 21 beranjak 22 tahun, dan keduanya beserta pasangan mereka yang usianya beberapa tahun lebih tua, masih jauh dari taraf hidup berkecukupan) baru-baru ini bertanya, kenapa gue nggak berpikiran untuk menikah muda. Jawaban gue sederhana aja.

Pertama, belum ada calon pendamping hidup yang jelas.

Kedua, I’m not into the idea of getting married so young.

“Tapi kan umur lo udah 26, Tan. Udah cukup matenglah kalo mau menikah,” katanya.

“Emangnya lo nggak mau jadi nyokap gaul? Kan jadi bisa deket dengan anak karena jarak umurnya nggak terpaut jauh.. Kalo punya anak cewek, mungkin anak lo akan lebih nyaman curhat sama lo karena lo juga masih muda,” kata seorang temen yang lain.

Jawaban gue yang sebelumnya simple pun akhirnya bermetamorfosa menjadi tulisan blog ini.

Tulisan ini gue bikin bukan karena gue iri karena belum menikah, tapi karena gue prihatin segitu gampangnya orang-orang memutuskan untuk kawin tanpa memikirkan mau dibawa ke mana rumah tangganya untuk beberapa tahun ke depan.

Nih ya, teman-teman yang baik hati dan budiman…

Menikah itu bukan urusan gampang. Mau usia lo masih muda atau udah tua sekalipun, marriage is never that simple. I’ve seen way too many marriages that fail because both husbands and wives are not well-prepared. Mentally and financially.

Ya mungkin ada di antara kalian yang bilang, kalo nunggu siap mah sampe kapan pun nggak akan ada orang yang siap buat nikah. Sama seperti lo, gue punya opini sendiri. Dan menurut gue, opini ini, terlepas dari ada yang setuju atau nggak, mesti gue ungkapin.

Kenapa menikah itu bukan urusan yang gampang? Karena ngurus diri sendiri aja udah susah. Gimana mau ngurus orang lain, plus anak, kalo diri sendiri secara mental dan materiil masih belepotan?

Sebelum memutuskan untuk menikah, pikirkan apakah lo bisa mengurus dan menafkahi anak yang akan jadi buah hati lo nanti. Susu dan keperluan bayi lainnya itu harganya nggak murah dan yang jelas nggak bisa dibeli pake cinta. Belinya pake duit. Duit dari mana? Nah, lo itung deh tuh, bisa nggak penghasilan lo membiayai keperluan si anak nanti. Tentunya sebelum membiayai anak, diri sendiri dan pasangan harus sudah terurus dengan baik dan benar. Untuk urusan begini, suami dan istri harus jujur dan terbuka satu sama lain. Kalo emang belum sanggup, ya baiknya tunda dulu punya anak.

“Tapi kan anak anugrah Tuhan. Kita nggak bisa nolak kalau udah rejeki dan udah dipercayain sama Tuhan,” kilah salah satu teman gue tersebut.

Justru karena anak itu anugrah dari Tuhan, makanya jangan dibikin menderita. Sangat pahit bagi seorang anak untuk terlahir dalam kemiskinan dan keadaan serba kekurangan. Mungkin orang tuanya bisa atau terbiasa hidup susah, tapi please pikirin nasib anak lo ke depannya. Jangan sampe anak masih kecil udah dibebanin pikiran apalagi tanggung jawab untuk ikut cari nafkah membantu kehidupan keluarganya juga.

Sebelum asik bikin anak, pikirin apakah lo udah sanggup menyediakan rumah tinggal, pakaian, dan makanan yang layak untuk kehidupannya. Juga apakah dia bisa bebas bermain dan menikmati masa kecilnya tanpa dipusingkan dengan kerumitan hidup yang (seharusnya) jadi tanggung jawab orang tuanya.

Sebagai bahan pertimbangan tambahan, lo mesti banyak nonton atau baca berita. Jaman sekarang makin banyak orang jadi gila karena kemiskinan. Bukan hal baru lagi ada ibu-ibu ngeracun anaknya terus bunuh diri akibat nggak kuat sama tekanan hidup. Nggak sedikit juga bapak-bapak yang ngelakui tindakan kriminal demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Suami istri berantem pake acara lempar-lemparan piring atau golok-golokan juga banyak. Semuanya karena secara finansial dan mental, mereka nggak siap jadi orang tua. Bisa ngebayangin gimana malangnya anak-anak yang lahir di tengah keluarga sakit jiwa seperti itu.

Apakah lo, karena keegoisan lo dan demi mencegah fitnah, zinah atau takut dianggep nggak laku / dicap perawan ato perjaka tua, mau kawin muda sementara secara materiil (dan mungkin mental) belum siap?

Menurut gue nggak harus jadi tajir gila buat kawin, tapi juga jangan sengsara dong. Egois banget kalo lo mau bikin pasangan hidup lo (yang notabene anak orang, sebelum kawin sama lo) dan juga anak lo sendiri nantinya jadi menderita. Orang tua jaman dulu mungkin bisa membangun kehidupan dari bawah bersama-sama, tapi ingat jaman kita ini berbeda.

Bangun rumah tangga “mulai dari nol” itu ide yang gila banget. Ini hidup, bukan slogan iklan Pertamina. Nggak bisa main-main. Kecuali lo berniat menambah angka kemiskinan dan nggak memperbaiki kualitas hidup lo dan keturunan lo, ya silakan aja kawin muda dengan kondisi finansial yang kayak puasa Senin Kamis alias hari ini makan, besok puasa.

pin_mar2

Use Facebook to Comment

comments

25 comments

  1. Lee Via Han says:

    ahhh akhirnya haha, saya usianya baru menginjak 22 th 2014 ini naik ke 23 bulan oktober nanti,tapi banyak yg protes kalo kamu nikah usia 25 seperti perawan tua,hadehhh suka kadang panik sendiri denger itu deh T__T, tapi ditepis sama pikiran cuek aja, trus suka dikatain pikiran saya kolot nikah targetin usia 25 wkwkk

    XOXO
    http://leeviahan.blogspot.com

    • dearmarintan says:

      @Lee Via Han: thanks udah baca dan ngasih komentar di sini ya..

      Orang-orang yang protes ke kamu itu punya alasan lain nggak buat nyuruh cepet nikah selain takut kamu nanti jadi perawan tua? Kalo nggak ada alasan lain yang masuk akal, ya kenapa harus didengerin. Yang ngejalanin rumah tangga nantinya kan kamu, bukan mereka. Susah, seneng, marah, takut, sedih dan semua perasaan lainnya itu yang akan ngalamin ya kamu dan pasanganmu bukan orang lain. Jadi lebih baik menikah bukan karena alasan takut jadi perawan tua, tapi karena udah siap secara mental dan finansial.. Mau umur kamu 25 atau 22 sekalipun, kalau kamu udah siap dua-duanya ya nggak akan ada halangan berarti untuk membangun rumah tangga.

      Thanks buat link blognya, nanti gue blogwalking ke sana ya..

  2. Tica says:

    sebenernya nikah muda si nggak apa-apa, namanya juga nikah alias komitmen, mau keadaan apapun kalo sama-sama mau, why not ???? Cowok bisa melamar, cewek bisa menolak, sampai ada satu pernikahan berarti ada kesepakatan kedua belah pihak…..

    masalah anak dan rezeki, you can’t winning everything, jika cuma melihat satu sisi, nikah di umur 30 aja udah rugi, alias let’s say anak pertama lahir terus berumur 20, kita sudah umur 50 tahun, masih produktif ? sedangkan ekspektasi hidup orang Indonesia nggak kayak bule yang bisa ampe 80 tahun….

    di umur 30 tahunan nggak ada orang nanya “duit lu ada berapa ?”, kebanyakan “anak lu usia berapa ?” #kidding

    Itu jika dilihat dari salah satu sisi aja si, mau nikah muda, nikah setengah muda, even nggak nikah banyak sisi positif negatif…..

    People believe in something based on “to support what they have”, not “what they really believe in.”

    • dearmarintan says:

      @Tica: Kenapa nikah di umur 30 udah rugi? Rugi umur? Atau rugi apa nih? Ekspektasi hidup sebagian besar (mayoritas, bukan semua) orang Indonesia hingga 50 tahunan itu waktu tahun 1980-an. Menurut data terbaru BKKBN tahun 2012, usia harapan hidup pria Indonesia 68 tahun dan wanita 72 tahun.Harapan hidup ini meningkat dari tahun ke tahun kenapa? Karena orang yang hidup di masa sekarang berpikir untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Itu juga makanya usia pernikahan masa sekarang dengan masa dulu, nggak lagi sama. Kalau dulu, orang bisa menikah umur 16 atau 17 tahun, sekarang rata-rata di atas umur 21 tahun. Aspek ekonomi, pendidikan dan kesiapan psikologis pastinya dipikirkan banget, makanya pernikahan jaman sekarang nggak semuda jaman dulu.

      Jadi kenapa harus takut punya anak di umur 30 tahun? Kan usia harapan hidup orang Indonesia makin tahun makin bertambah.. Bukankah lebih baik sedikit menunda punya anak demi kehidupan masa kecilnya yang lebih baik, daripada buru-buru menikah hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan orang lain tentang berapa jumlah anak yang kita miliki?

      Ya, setuju. Nikah umur berapapun, muda, nggak muda, atau nggak menikah sekalipun, ada sisi positif negatifnya. Itulah makanya harus dipertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan terpenting dalam hidup tersebut.

      Maksudnya quote yang ini apa ya? Masih nggak ngerti~ Mohon pencerahannya.. Thanks~

      “People believe in something based on “to support what they have”, not what they believe in,”

    • dearmarintan says:

      @Titis: apapun pilihanmu dalam hidup, make sure you are happy with it.. Traveling sangat baik di usia muda, supaya kita bisa melihat dunia dan bersyukur atas apa yang kita punya saat ini.. jadi begitu waktunya tiba dan kamu akan membangun rumah tangga, kamu bersyukur pernah traveling dan pengalamanmu ini bisa diceritain ke anak-anakmu nanti.. anyway, menikah umur berapapun, selama udah siap mental dan finansial, silakan saja..

  3. ettanaeni says:

    Dear marintan…

    Tulisan lo cukup bagus dan lugas yah..
    Sedikit sharing, dulu gw juga pernah merasakan apa yang ada dipikiran lo…gw setuju memang untuk memutuskan nikah muda itu ga gampang…

    Gw tau tulisan lo ini dari salah seorang teman yang tersinggung akan hal ini.

    Tapi, ada hal yang harusnya lo yakini dan lo ga boleh lupa. Sebagai makhluk tuhan, apa pun itu agamanya pasti diajarkan untuk berusaha. Dan setelah menikah, semua pasangan pasti merasa punya tanggung jawab baru untuk menghidupi keluarganya, dari segenap usaha dia, gw percaya Tuhan kasih jalan. Tuhan kasih rejeki, dengan tak lupa berdoa, dan minta sams Tuhan, Dia pasti bantu.

    Betulll..
    Gw setuju banyak kejadian yg lo tulis baik perceraian, pertengkaran atau bahkan pembunuhan suami istri karena belum siaap mentalnya.

    Tapi, ada yg missed disini, ga semua pernikahan muda itu berantakan, ga semua apa yang dimulai dari 0 itu ga meaning,
    Udah pernah nonton Habibi ainun?? Mereka juga susah dulu kok, dan gw juga melihat ortu gw yang awalnya ga punya apa apa, dengan segala usaha mereka bisa sukses dan bisa menghidupi gw dengan layak.

    Gw diumur 27 ini juga belum menikah, dan berencana menikah bulan depan. Gw dengan jabatan supervisor dengan gaji yg sudah cukup untuk ukuran wanita justru khawatir bila terlalu lama gw single, gw akan kehilangan rasa untuk mengabdi kepada suami. Bahkan cowo gw waktu ngelamar gw bilang

    “Aaay… Tukang nasgor aja bisa hidupin anak istrinya. Lalu kenapa kita harus takut…”

    So.. gw setuju dengan lo, ketika kita memutuskan menikah harus dengan pertimbangan, tetapi alangkah bijaknya kita ga menjudge semua pernikahan usia muda itu banyak gagalnya…

    Hehehheee…
    Keep in rock marintaan…

    • dearmarintan says:

      @Etta: Hai, Ta, thanks lo udah ngasih komen yang cukup tenang dan juga contoh dari kehidupan lo sendiri.. sebelumnya, gue penasaran dengan teman yang lo maksud. Gue berasumsi bahwa orang itu adalah wanita, sudah menikah di usia muda, dan berada di lingkaran pertemanan kita, mungkin anak 47 juga.. anyway, gue mau membalas komentar lo di sini dan menerangkan dengan lebih jelas supaya orang lain benar-benar paham apa maksud tulisan gue sebelum mereka merasa tersinggung~

      Gue yakin dan nggak lupa, manusia itu memang makhluk Tuhan. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia malahan, makanya kita dikasih akal untuk berpikir dan mempertimbangakan banyak hal sebelum mengambil keputusan terbaik untuk dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

      Alangkah indahnya dunia ini kalau memang seperti yang lo bilang di atas. Bahwa setelah menikah, semua pasangan pasti merasa punya tanggung jawab menafkahi keluarganya. Sayangnya gue nggak seberuntung lo. Dengan mata kepala gue sendiri, gue menyaksikan dan merekam semua kejadian di memori gue dengan baik. Banyak (by this, I mean not just 1 or 2 married couples) pasangan suami istri yang merasa salah satu di antara merekalah yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Ada beberapa aspek yang membuat mereka berpikir seperti ini, antara lain nama dan martabat keluarga salah satu pihak, gender, dan contoh yang mereka lihat di keluarga inti tempat mereka lahir dan dibesarkan. Akibatnya, salah satu pasangan merasa diperlakukan nggak adil dan ada juga yang nggak terima, hingga akhirnya berujung ke keributan bahkan KDRT. Lebih parahnya lagi, masalah mereka semakin memuncak sementara perceraian nggak mungkin ditempuh karena alasan agama, adat, dan malu dengan nama baik keluarga. Bisa bayangin gimana kasiannya anak-anak yang terjebak hidup seatap dengan orang tua kayak begini.. Bukan keinginan mereka dilahirkan di tengah pasangan yang nggak siap mental maupun finansial.. itulah kenapa gue menulis blog dengan tema ini..

      Apa yang missed di sini ya? Mohon ditunjukkan di bagian mana gue menggambarkan semua pernikahan muda itu berantakan. Contoh-contoh pernikahan berantakan yang gue sebut di paragraf 18 (diawali dengan kalimat “Sebagai bahan pertimbangan…”) sama sekali nggak menyebut usia dari pasangan-pasangan tersebut. Bahkan kalau mau jujur, beberapa di antara pasangan menikah berantakan yang gue maksud itu nggak lagi berusia muda malahan.. itu pure contoh aja akibat ketidaksiapan mental dan finansial mereka, sehingga pernikahan mereka jadi bahan tontonan masyarakat (golok-golokan, lempar-lemparan piring, dll).

      Gue nonton Habibi Ainun beberapa kali dan bisa gue katakan dengan sangat yakin keduanya tidak memulai rumah tangga dengan tangan kosong sama sekali. Memang mereka bukan orang berkelimpahan harta, apalagi waktu awal-awal menikah. Tapi mereka juga bukan orang sembarangan yang memutuskan untuk menikah tanpa tahu konsekuensi sebuah pernikahan dan apa yang harus mereka lakukan untuk membangun rumah tangga yang bahagia dan sejahtera. Baik Habibie dan Ainun keduanya pintar dan orang profesional. Habibie pun nggak akan mungkin mengajak Ainun tinggal di luar negeri kalau di sana dia luntang-lantung nggak ada kerjaan atau proyek yang jelas.

      Di usia 27 tahun dengan profesi dan gaji yang mumpuni, jelas sangat layak bagi lo dan pasangan lo untuk memulai rumah tangga. Kalian pun pastinya udah memikirkan akan dibawa ke mana rumah tangga kalian nantinya, rencana masa depan, keuangan keluarga dll. Dalam hal ini gue nggak bisa melarang ataupun mengomentari keputusan lo menikah, karena ya memang sudah tepat dan sudah waktunya.. Beda halnya dengan dua teman gue yang gue gambarkan dalam postingan blog ini yang tentunya sudah lo baca bagaimana kondisi mereka.

      Tukang nasgor, tukang sayur, tukang ikan, tukang tambal ban sepatu, dan semua tukang yang lainnya memang bisa menikah dan menghidupi anak istri. Tapi ya taraf kehidupannya nggak bisalah disamakan dengan kita yang secara ekonomi maupun pendidikan lebih baik. Mereka pun, kalau punya kesempatan hidup yang lebih baik atau sama seperti kita, pastinya juga akan berpikir lebih lagi sebelum membangun rumah tangga. Supaya taraf hidup lebih baik. Sayangnya, mereka nggak seberuntung kita. Inilah kenapa gue menulis tulisan ini di blog dan social media. Karena tentunya sasaran pembaca atau target readers gue adalah orang-orang yang kurang lebih sama dengan gue, pendidikan minimal SMA / kuliah (terlepas dari lulus atau nggaknya), memiliki akses internet dan pengetahuan yang memadai, dan pilihan hidup yang variatif dan bahan pertimbangan yang lebih baik daripada tukang nasgor seperti yang digambarkan calon suami lo tersebut..

      Inilah penjelasan gue sekaligus balasan terhadap komentar lo.. semoga lo bisa juga menyampaikan ke teman lo (atau teman kita) itu bahwa gue bukan melarang pernikahan muda. Tapi gue tidak menyetujui orang muda yang menikah tanpa kesiapan mental dan finansial (siap finansial nggak mesti tajir tujuh turunan ya, Ta).. semoga temen lo meluangkan waktu untuk mengerti maksud yang gue sampaikan ini..

      Gue doakan yang terbaik buat lo dan calon suami lo. Semoga proses kalian sampai akhirnya menuju pelaminan lancar dan banyak berkah. Amin..

  4. Kania says:

    Nikah mulai dari nol bukan slogan kok, contohnya ya orang tua gw, mereka nikah muda dan gak punya apa2 sama sekali tapi mereka sukses usaha bareng2 setelah nikah sampe akhirnya bisa nyekolahin 5 anaknya sampe kuliah, dan gw juga gtu kok, nikah gak punya apa2 dan baru mulai usaha ngumpulin ini itu pas udah nikah, trus nikah muda gak semuanya jelek kok ada banyak bagusnya juga, klo yang dipaparkan marintan ini kan kayaknya yang jelek2 semua tapi buat aku nikah muda itu malah bikin aku tambah bahagia bisa ngebangun keluarga bareng2 dari nol.. Hehee

    • dearmarintan says:

      @Kania: Semoga lo bukan salah satu teman yang tersinggung akan tulisan gue ini seperti yang dimaksud Etta di komennya di atas, hehe~

      “Mulai dari nol” adalah diksi yang gue pilih dan itu mengingatkan gue akan slogan iklan Pertamina..

      Menikah dari nol tentunya konsekuensi yang dipilih oleh pasangan yang setuju untuk membangun rumah tangga bersama. Tentunya mereka tau apa yang mereka pilih, masalah apa yang mungkin timbul dari pilihan tersebut, dan cara untuk menanganinya. Sayangnya, nggak semua orang benar-benar memikirkan konsekuensi ini, dan banyak pasangan yang begitu sudah merasa yakin ketemu jodohnya, ya sudah langsung saja menikah.. jarang yang benar-benar terbuka dan membahas pembagian pemasukan hasil kerja masing-masing, kapan punya anak, mau punya anak berapa, perlu kontrasepsi atau nggak dan bagaimana cara mendidik anak-anaknya nanti. Bagi pasangan yang toleran dan matang, mungkin ini hanya akan jadi riak-riak kecil yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Bagi pasangan lain yang labil karena secara mental dan finansial nggak siap, riak-riak itu menjadi ombak yang bisa menggulung rumah tangga mereka dalam badai. Dan gue berani ngomong begini pastinya karena sudah melihat banyaknya contoh keluarga yang nggak harmonis karena ketidaksiapan mereka.. Samalah, seperti lo yang lebih beruntung dan bisa melihat orang tua lo membesarkan lo dari nol sampai hidup layak dan sekarang berkeluarga pun dari nol juga..

      Gue berharap lo dan pembaca lainnya blog ini mengerti persis bahwa apa yang gue maksud dengan mulai dari nol ini bukan hanya soal finansial saja (meskipun bagian ini juga berperan besar dalam memulai rumah tangga). Kalau dibaca lagi dengan lebih seksama, contoh yang gue bahas di blog ini adalah dua orang teman berusia 18 tahun dan 22 tahun yang baik keduanya maupun pasangan mereka, sama sekali nggak terlihat siap untuk menikah tapi dengan nekatnya mau menikah. Kenapa gue bilang begitu? Secara finansial, kedua temen gue tersebut hidupnya masih susah. Orang tua keduanya aja masih perlu tanggungan hidup dari anak-anaknya, bagaimana mereka memutuskan untuk membangun keluarga yang baru sementara keluarga sendiri belum memadai hidupnya.. Belum lagi dari segi mental, keduanya masih kekanak-kanakan. Gue nggak perlu menyebut contohnya apa karena gue rasa mereka pun menyadari hal itu, kalau membaca postingan ini.

      Jadi, wajarlah kalau gue menulis ini. Bagaimana mungkin anak-anak bisa mengurus anak? Nah itulah makanya gue berargumen bahwa kedua teman gue itu egois dan nggak memikirkan masa depan anaknya (anyway, keduanya nggak berencana menunda momongan). Dengan kondisi hidup mereka yang seperti itu dan dua-duanya memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga tanpa mencari pemasukan tambahan untuk mendukung hidup keluarganya, jelaslah gue kasihan dengan calon anak mereka nantinya.. hidup mereka akan berkekurangan dan masa kecilnya nggak akan menyenangkan.. belum lagi kalau kedua pasangan itu ribut karena uang atau kebutuhan hidup yang mendesak tapi nggak bisa dipenuhi…. nggak kebayang, rumah tangga macam apa yang mereka bina…

      Tentunya, gue yakin pada saat lo memutuskan untuk menikah, lo nggak sekedar asal menikah seperti kedua teman gue ini.. pada saat lo memulai hidup “dari nol”, gue berharap definisinya bukanlah memulai rumah tangga dari kemiskinan seperti yang akan dilakukan kedua teman gue tersebut..

  5. citramanica says:

    Setuju… Dulu aku pernah pengen nikah muda, awal 20-an lah. Tapi akhirnya malah nikah di umur 29 tahun. Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, bersyukur banget gak jadi nikah muda. Nikah umur 29 itu udah pas, karena udah puas banget gila-gilaan sama teman-teman, udah berpetualang sendirian di Eropa, udah kuliah sampai master, udah kerja lumayan lama…. Intinya udah puas lah menikmati kesendirian, hehe…. Jadi nikah pas udah bener-bener siap. Tapi ini buat aku ya, banyak juga kok yang nikah muda juga baik-baik saja kehidupannya.

    • dearmarintan says:

      @Citramanica: seneng dengernya.. udah keliling Eropa dan udah kuliah sampe Master (ini nih yang bikin iri, hahaha, pengen kuliah S2 juga soalnya).. memang sebaiknya udah puas dengan masa single, sehingga pada saatnya nanti kita menyadari bahwa hidup di dunia ini akan lebih baik ada pendampingnya.. kalau masih muda tapi belum mengejar cita-cita, masih banyak impian yang belum terkabul, atau parahnya lagi, belum selesai sekolah/kuliah dan keluarga inti saja belum diperhatikan kebahagiaannya, gimana bisa bikin keluarga baru dan membuat mereka bahagia..

      Ya, memang ada banyak yang menikah muda dan hidupnya baik-baik saja. Tapi nggak sedikit juga yang hidupnya jauh dari kata baik-baik saja.. Inilah yang harus dihindari.. biar bagaimana pun, berumah tangga itu untuk menjadi lebih bahagia daripada ketika masih single. Bukannya untuk jadi lebih menderita dan membuat anak juga sengsara..

  6. Dira says:

    Dear marintan. Gw nikah waktu umur 24 th. Dan nggak pernah menyesal dgn keputusan gw. Selama pasangan benar2 berkomitmen,kita bisa kok jadi financial planner yg baik kok. Bisa nabung untuk pensiun nanti,untuk sekolah anak,dll. Krn kematangan dan kesiapan seseorang itu tidak didasari oleh umur seaeorang. Blom tentu yg nikah muda itu egois atau tanpa perencanaan matang,dan ga semua orang yang nikah di usia matang itu punya kesiapan untuk membangun keluarga. Jadi semua balik lagi ke masing2 individu 🙂

    Cheers..

    • dearmarintan says:

      @Dira: Hai, Dira.. semua yang lo katakan di atas itu gue setujui dan menurut gue nggak ada masalah.. gue harap pada saat lo membaca blog ini, lo tidak berpikir bahwa gue menentang keras orang untuk menikah muda. Yang gue nggak setujui adalah, orang menikah muda tanpa kesiapan mental dan finansial seperti dua teman yang gue gambarkan dalam tulisan ini..

      Lagipula, postingan ini gue beri judul “Nikah Muda, Pikir-pikir Dulu Deh!” yang artinya gue menganjurkan orang-orang muda untuk memikirkan dulu kesiapan mereka sebelum menikah. Kalau mereka sudah yakin ya, bukan hak gue juga melarang. Itu kan hidup mereka.. Gue cuma nggak mau salah satu atau kedua teman gue tersebut menyesal menikah, seperti beberapa pasangan yang gue lihat dalam hidup gue. Bukan hanya suami istri aja yang menyesal menikah, anak-anak mereka pun menyesal dilahirkan karena konflik keluarga yang nggak kunjung berhenti dan nggak ada pihak yang berinisiatif menyelesaikan.. Kasian kan anak-anaknya.. Kalau mereka nggak bisa jadi ortu yang baik, at least ya nggak usah punya anaklah.. buat apa bikin keturunan kalau nantinya hanya akan dilahirkan untuk hidup menderita? Dan potensi ini gue lihat dengan jelas dalam rencana kedua teman gue tersebut untuk menikah. Keduanya hanya melandasi pernikahan atas nama cinta dan agama, begitu gue tanya gimana persiapan ke depannya untuk hidup berumah tangga, jawabannya hanya, “biarkan aja mengalir seperti air”… bener-bener jawaban yang bikin miris, karena seperti nggak ada arah hidup rumah tangga yang kayak gitu.. dan apakah mereka nggak sadar, air itu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah.. kalau filosofi hidup aja nggak jelas begitu, gimana gue nggak khawatir?

      Gue yakin, sama seperti Etta dan Kania, lo pastinya udah mempertimbangkan dulu mateng-mateng sebelum menikah.. Sehingga lo bisa merasa bahagia dan nggak menyesal udah menikah di usia 24 tahun.. gue cuma berharap ada lebih banyak lagi orang seperti lo, yang sebelum memutuskan untuk menikah, udah memikirkan ke depannya akan bagaimana (bisa nabung untuk pensiun, sekolah anak, jadi financial planner yang baik, dll)..

  7. irowati says:

    menurut aku Jodoh itu dah diatur sama Allah pemilik alam ini, kita g tau skrg bilang g mau nikah dl….eee qodarullah bsk Allah mengirimkan Jodoh yg bs membuat kt tdk bs bilang “gak mau”……dl impian aku menikah diusia 25th, msh ingin ini dan itu…tetapi krn kehendak Allah mengirimkan jodoh untuk aku diusia 22th yg membuat aku tdk bs menolak u tdk menikah dengannya, sholat istiqorah pun memantabkannya…ya menikahlah aku dgnya sp skrg sdh berjln 16th pernikahan kami, mmg dlm rmh tangga g spt membalikan telapak tgn, bth kesabaran, keiklasan, usaha keras u saling percaya dan saling menerima dan memberi….insyaallah semua berjalan lancar….onak dan duri pasti ada dlm rumah tangga tp dg berbekal doa, usaha dan keimanan semua menjadi indah…aku bahagia dg menjadi ibu muda dan mengasyikkan msh menjadi emak yg gaul dan berkarya….semua adalah pilihan setiap pribadi tp balik lg…bila Allah sdh berkata “KUN” maka jadilah apa yg dikehendakinya…..so yg nikah dini atau mau nikah entar ya silahkan saja…yg terpenting jadikan semua untuk meraih kebahagiaan…kebahagiaan g ada dlm setumpuk harta atau cinta…kebahagiaan ada bila kt bs memberi dan membuat orang lain bahagia dg apapun yg kt punya dg keiklasan dan ketulusan kt…..( duh panjang banget commentnya mak…maaf ya….)

  8. Robertus Benny Murdhani says:

    Mer, tulisan yang bagus.
    Menikah muda itu memang harus sangat dipikirkan matang-matang, terutama dua aspek penting yaitu mental dan keuangan.

    Yang selalu bikin aku heran, kenapa pasangan yang secara ekonomi kurang, justru punya anak yang banyak. Aku sebagai anak terakhir dari keluarga beranak 7 bener-bener ngerasain gimana aku dibesarkan ketika orangtua sudah pensiun dari kerjaannya dan keaadaan ekonomi tidak sebaik ketika ortu masih kerja.

    Jadi setelah menikah, yang mesti dipikirkan adalah “jangan punya banyak anak”.

  9. fitri says:

    Marintaaann…I do agree with you..
    tapi balik ke pribadi masing2 sih kalo lo dan pasangan ngerasa udah siap then go ahead..
    tapi kalo gw pilih tidak utk menikah di usia muda..

  10. Emi Lopez says:

    Dear “bittersherry”, let’s celebrate our new friendship.
    *sodorkan arak bali*
    HAHAHA.

    Getting married, isn’t as easy as picking out a pair of shoes. Hell, even at picking out shoes you’d need tons of considerations, right? Why should getting married be less difficult?

    Menikah itu butuh komitmen.
    Butuh usaha.
    Butuh biaya.

    Ya iyaaallah, masa’ cuma mau makan cinta?! Masuk angin, bray! Kalo saya sih, yang realistis aja.saya sih butuh duit untuk hidup. Cinta cuma bagus untuk dijadikan lagu, novel, dan skenario film.

    Tolong kasih saya alasan yang lebih MASUK AKAL dari sekedar USIA.

    Kalau orang-orang dari “generasi terdahulu” mungkin masih bisa dimengerti dengan cara berpikir najis macam itu.
    Tapi kalau yang ngakunya “anak jaman sekarang”, lahir di era modern, fasih dengan teknologi dan punya ribuan temen di facebook *gak nyambung*, MASA IYA MAU NGIKUTIN JUGA?!

    Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, be-GAWUL dimana-mana, dan sejenisnya, kalau masih punya pikiran yang setara sama orang yang hidup di jaman yang (jauh) berbeda?

    Apa gunanya punya kesempatan untuk merubah hal-hal yang bisa dirubah kalau gak digunain?

    [FYI, gak semua nilai dan norma yang ada di negara ini PANTES untuk diterusin dan diturunkan ke generasi berikutnya, you knooowww? Mikir dong ah!]

    Marriage isn’t a game you play on your spare time.
    Therefore, it shouldn’t be taken without well consideration.

    . terimakasih dan sampai jumpa .

    *curtains closing*

  11. mrsprasstyo says:

    hai nice post!
    Cuma mau share aja sih, gw nikah diumur 23 tahun and still struggling.Struggling dari apa? dari beginian hahah.Perumpaan yang bilang nikah muda itu petaka. Di tahun kedua gw nikah, kita udah ke lebih dari 5 tempat tujuan traveling,yang tadinya ke club sekarang lebih suka ke bar (mean while masih bisa party juga).Kita berdua emang belum punya anak,tapi gak nunda juga.kita berdua bukan anak konglomerat,tapi kerja gila gilan buat achievment goals kita berdua.Menurut gw gak ada yang mesti ditakutin dri nikah muda.Punya anak juga gak secepet itu kok.Kalau di kasih secepet itupun emang karena Tuhan udah atur rejekinya.Sok wise sih..Tapi gak ada yang tau aja keajiban Tuhan spt itu , spt gw nyicil rumah dengan DP cuma 900rb?!Reejeki? Too much think kills you.Menikah juga bukan cara gw Mau bebas dari pertanyaan “kapan”? kapan kawin,kapan punya anak,kapan mantu?! gak mungkin..It’s never ending question. Kita hidup di Indonesia,sekarang tinggal bebel2an kuping aja.Marriage is about choices.Kalau ditanya kapan siap?jawabnya gak akan pernah siap.Jawaban itu yang akhirnya memutuskan gw untuk menikah muda,jawaban yang hanya bisa lo tau ketika lo menjalaninya 🙂

  12. Bad Girl Day's says:

    Sebagai anak yg lahir dari kesalahan orang tua saya ngerti betul penderitaan seperti apa yg bakalan dialamin sama si anak yang dimaksud.

    Sejak kecil saya sering liat orang tua saya berantem gara2 masalah duit atau masalah kecil lainnya. Saya ga bisa menikmati masa-masa indah saya karena harus membantu orang tua. Kalau ga mau bantu saya pasti dimarahi. Dibilang anak durhaka. Lalu dibanding-bandingkan dengan anak orang lain yang kaya ( ataupun miskin ) yang mau bantu orang tuanya. Setiap hari libur saya selalu membantu orang tua saya sementara temen2 saya main ke mall, pacaran, dll. Kalau main ke mall pulangnya pasti ditanyain sama mama berapa banyak uang yang dihabiskan. Habis itu di ceramahi, di nasehati, di caci maki sampai kuping meledak.

    “Cari uang itu susah tahu…!!! Kok kamu seenaknya aja ngabisin gitu aja? Temen2 kamu itu anak orang kaya. Kalau kamu mau kayak mereka kamu keluar aja dari rumah ini.” Kata ibu saya waktu itu

    Saya juga harus menanggung malu & sakit hati karena orang tua saya. Waktu acara kumpul2 keluarga saya selalu dijadikan “bahan candaan” sama anggota keluarga saya. Ibu saya yg seharusnya membela saya, malah berbalik ikut menyerang saya karena selama ini saya hidup dari sokongan dana keluarga saya (atau lebih tepatnya ibu saya cari muka). Saya dibanding-bandingkan saya sepupu2 saya yang notabennya berhasil karena orang tua mereka.

    ” Tuh, liat si A. Bentar lagi dia lulus S1. Kamu kapan? Udah SMA tamat kok ga maju2? Nikah aja deh kamu mendingan. ” Kata ibu saya pas dikasih tahu kalau keponakannya mau lulus kuliah.

    Si A bisa kayak gitu karena dia kuliah dibayarin orang tuanya, ma!

    ” Ya udah kamu kerja, dong. Banyak kok yg kerja buat kuliahnya. Ada berjuta-juta orang yang kayak gitu.” Kata ibu saya ngeles.

    Saya juga ga bisa merasakan arti keluarga yang sesungguhnya karena ayah saya sering cari kerja diluar kota, luar pulau, dan bahkan luar negri. Orang tua saya jadi ga konsen membesarkan anaknya karena sibuk mencari uang.

    Dan beban hidup yang berat bikin kita semua jadi frustasi, depresi, stressi, dll. Saya sering liat ibu saya nangis malem2 karena beban hidup yang berat. Bapak saya kalau lagi marah, dia sering caci maki saya pake kata-kata kasar, mukul saya pake tongkat bambu yang panjangnya 1 meter, bahkan ancaman pembunuhan dia lemparkan ke saya. Lempar2an piring, lempar lembing, lempar golok, dll udah jadi makanan sehari-hari buat saya.

    Rasanya ga mau pulang ke rumah. Rasanya mau mati aja. Tapi saya terlalu takut buat mati sendirian.

    Setiap kali bapak saya pergi keluar dari rumah. Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya ga harus liat dia lagi. Ga harus dengar caci maki dari dia lagi. Bapak saya bilang ” saya sebenarnya ga mau marah-marah kayak gini. Ntar kalau saya marah2 dibilangnya ini lah, itulah.”

    Terus saya harus kayak gimana? Saya bosen hidup susah sama bapak. Bapak mungkin aja biasa hidup kayak gini, tapi saya ngak. Sekarang di umur saya yg udah kepala 2 ini saya harus ikut bapak pulang kampung dan memikul beban keluarga seorang diri yang seharusnya dipikul sama bapak. Disaat anak2 seumuran saya mengejar cita-citanya.

    Keluarga sakit jiwa? Kita semua seharusnya udah masuk rumah sakit jiwa kali. Dulu sebelum nikah sama bapak saya ibu saya itu tuan putri dari kerajaan negeri seberang sekarang setelah menikah sama bapak saya dengan hanya bermodalkan cinta monyet, ibu saya harus rela turun pangkat jadi pembantu di negri asal suaminya. Ga mungkin perubahan itu ga bikin ibu saya stress atau depresi. Ga mungkin tanggung jawab menikahi tuan putri, ga bikin bapak saya pusing tujuh keliling sampai vertigo.
    Dan ga mungkin juga saya, ga jadi bahan omongan teman2 ibu saya, tante saya, dan rakyat negeri kerajaan ibu saya. Untung orang-orang yg di sekitar Kita semua ga ada yg berlatar belakang dokter jiwa, kalau ada mungkin kita udah ada dirumah sakit jiwa sekarang.

    Saya mungkin aja anak dari tuan putri. Tapi saya ini dibesarkan dipemukiman kumuh. Jangan heran kalau saya ga bisa beli baju bagus dan harus menanggung malu kalau jalan sama saya karena tampang saya kayak gembel. Jangan heran kalau cara bicara saja kasar, galak, dan ga sopan, Saya ini sekolah di sekolahan ecek-ecek. Ga kayak sepupu2 saya yg sekolahnya di sekolah international bahkan sampai kuliah diluar negeri. Jangan heran badan saya kurus kering, dan kecil, orang tua Saya ini ga sanggup kasih makanan yang bergizi buat saya. Apalagi makanan enak. Jangan heran kalau kemana-mana Saya itu sendiri, saya ini ga diajarin caranya bergaul sama orang tua saya karena mereka sibuk sendiri.

    Dan lebih parahnya semua penderitaan yang saya tanggung itu, orang tua saya bilang itu semua salah saya. Ya, itu memang salah saya. Salah saya kenapa saya lahir kedunia ini. Salah saya kenapa saya ga mati aja. Salah saya kenapa saya terlalu takut buat mati sendirian.

    Dari semua penderitaan yang saya alami, saya memutuskan untuk menikah di usia yang bener2 siap. Kalau perlu ga usah nikah.
    Seperti kata Marissa Anita, “anak adalah tanggung jawab besar. Jika memang tidak siap dan tidak mengerti cara mendidik anak, jangan punya anak. Jangan hanya karena tekanan keluarga untuk berkeluarga, kita jadi salah kaprah — membesarkan anak tanpa tahu betul cara mendidik dan mendisplinkan mereka secara sehat.” Sukur-sukur si anak bisa membesarkan dirinya sendiri dan tidak terjerumus ke hal2 negative seperti saya. Bagaimana kalau tidak? Mau jadi apa anak itu?

    Sekian cerita dari saya. Saya harap pengalaman saya ini bisa membantu orang banyak.

    Love, Ririn.

    • dearmarintan says:

      Dear Rin,

      Gue nangis pas baca komen lo ini karena gue ngerti banget apa yang lo alamin dan rasain.. lo nggak sendirian.. I’ve been through these hard times, too.. gue nggak bisa bahas banyak hal via komen di sini.. yang jelas gue menghargai keberanian lo untuk nulis komen di sini.. gue nggak ngerti gimana caranya lo bisa nyasar di blog ini, tapi makasih banget udah baca dan komen.. gue harap kita bisa ketemu suatu hari nanti untuk ngobrol bareng :’)

      Life is extremely hard, but carry on! We have to survive and continue breathing!

      • dWi (@Ki_seKi) says:

        “diatas langit ada langit” setiap saya memiliki mslh berat pasti kata2 itu yg saya ingat.
        saya bisa paham jika berada pada situasi spt itu pun kita, kamu atau iya kamu yg lagi baca ini sedang mengalaminya.
        yakinlah kita gk sendirian, ada Dia yang setia mendengarkan keluh kesah kita. Sambil jgn lupa untuk berusaha bangkit dr persoalan yg ada…

        ~ cheers

  13. ivan l says:

    Menikah itu ibarat komitmen ya,,,,gw udah 32 awalnya ga mau nikah,,,,apalagi org batak kyk gw byk bgt yg harus diikutin secara adat,,,,gw setuju lo blg hrus itung2 gaji,,,,krn jgn sampe menyusahkan org dan anak,,,tp 1 hal bgitu penghasilan naik rasa curiga jg bertambah,,,kyk gw berpikiran cewe ini suka gw apa adanya atau ada apanya yah,,,msalah nikah mah itu sdh jd sesuatu yg kompleks bagi sebagian org dan simple jg utk sebagian org,,,,kyk gw maaf kata klo dihitung2 uang yg gw habisin buat hura2 dsb nya itu udah bisa buat nikah 2x memakai adat batak,,,tp gw mikir apa mau begini2 aja hidup??jd thn 2014 ini gw coba merubah mindset bahwa pernikahan itu kompleks,,,gw coba menaruh mindset married is simple,,,,kt mencintai,menyanyangi,memperhatikan dan meniduri 1org utk selamanya,,,,jd klo yg nikah muda itu krn pikiran mrk simple,,,,tak ku tau khan hari esok,namun langkahku tegap,bukan surya kuharapkan krn surya khan lenyap,,o tiada ku gelisah,akan masa menjelang,kuberjalan serta Yesus maka hatiku tenang,,,,,jd apa yg baik dimata kt blum tentu baik dimata mereka,apa yg baik di mata mrk blm tentu baik di mata kita,,,so dimata kamu mgkn mrk blom siap tp itu blm tentu,,,perceraian,kematian,kemiskinan,kemakmuran itu semua misteri hidup kt hanya bisa berusaha semaksimal mgkn,,,,hargailah waktu sebelum smua sia2…tw

  14. alexandria says:

    Hallo, tulisan yg menarik. Buat aku menikah/jodoh itu misteri Tuhan. Tidak ada istilah nikah muda, perawan tua, bujang lapuk, nikah telat, pernikahan dini. Itu semua misteri. Iya mmg ketika menikah banyak yg harus dipertimbangkan salah satunya adalah kesiapan financial. Tidak harus bergelimangan kekayan yg penting keduanya siap menghadapi apa yg akan terjadi di dlm pernikahan. Dan finasial adalah masalah yg sensitif meskipun didalam pernikahan. Terkadang kita hanya mengiginkan ‘the wedding’ nya bukan ‘marriage’ it self. Ingat, ketika menikah ada dua kepala, dua badan, dan dua keluarga besar, dan sooner or later ada mulut kecil yg akan memcahkan segala bentuk idealisme dan mimpi ttg happy ever after. Intinya, siapaun yg mau menikah muda silahkan krn berarti jodoh mu sudah sampai asal siap dengan apa yg akan terjadi di depan, yg mau happy dulu dengn kehidupan single nya ya monggo. Menikah tidak mudah darling tp bukan berarti tidak bisa bahagia. Buat ibu2 muda semoga pernikahannya bahagia dan murah rejeki, buat single ladies have fun and soon you’ll find ur own happines and mr – good enough to be ur mr- right probably waiting at the corner of the bar that you always missed 😉

    Alexandria
    31 (married when she was 29 and now happy with her adorable son and lovely husband)

  15. Brian says:

    So, I told you I would read your blog as as much as I can gather(seeing you know I am not fluent in Bahasa) I would like to take an approach to this. I would just say that I can somewhat gather your opinon to be what’s with getting married young if you cannot support your wife of your future kids etc… I would say to that, If you trust in God and live by His word He will direct your steps. Nothing in life is by mere chance or by coincedence. God is always in control of every situation. Although we should trust in God to guide us, that also does not deny our responisbliity to live up to what God expects. If we are faithful to God’s word, He will be faithful to us. We do not have to worry about such trivial things about the future. We just take one day at a time. We live day to day in the hands of God not knowing whether we have even tomorrow. When the right person for us comes along, if we are in prayer, we will know it. God will press upon our hearts who to marry and it will work out that the girl/guy will feel the same. I believe if it is meant by God, then the parents approval will be there as well… or they will ateast respect the decision of their child(seeing it is a Godly based relationship) Now when it comes to preparing for something like marriage I think that should be started by the man and women at a young age. The women should prepare herself to be a good mother and Godly submissive wife. The man should prepare to earn money for the family and to be a spiritual role model/leader. For the wife and future children. When it comes to finances, I do not think I have to have all the money in the world, but as long as I have my God and my family in order all is well. Everything good comes from God anyways, so He is in control of that. When it comes to children God will open the womb of the women when He is ready and He also knows what you can bare. That is my thoughts if I interpreted this article right. lol

Leave a Reply to dWi (@Ki_seKi) Cancel reply