Antara Resolusi Tahun Baru dan Majalah Gadis

NYR4

New Year’s Resolution.

Kedengerannya kece dan kekinian. Mungkin banyak dari kita yang sejak bertahun-tahun lalu udah bikin resolusi tahun baru. Seinget gue, istilah ini gue tau waktu masih baca majalah Gadis pas SMA dulu, kira-kira sekitar tahun 2002-2003 gitu deh. Majalah Gadis edisi akhir tahun selalu lebih tebal dibanding edisi yang lainnya, dengan kertas licin berwarna-warni, segudang hadiah kuis buat pembaca, dan pastinya tips menghadapi tahun baru supaya lebih berwarna. Salah satu caranya ya itu tadi yang gue sebut, bikin resolusi tahun baru.

Waktu SMA dulu, berhubung gue masih alay dan gampang kepengaruh sama doktrin majalah remaja, jelas aja gue semangat. Ambil jurnal cantik dan nulis segudang hal yang pengen gue capai di tahun yang baru dengan spidol warna-warni. Pengen jadi cewek yang lebih berprestasi, lebih gaul, dan lebih cantik. Kayaknya itu adalah beberapa hal yang gue tulis dalam daftar resolusi tahun baru waktu itu.

Sampul Majalah Gadis edisi awal tahun 2013 lalu (sumber: gadis.co.id)

Sampul Majalah Gadis edisi awal tahun 2013 lalu (sumber: gadis.co.id)

Believe it or not. Resolusi yang sama selalu gue tulis tiap tahunnya selama kira-kira dua atau tiga tahun setelah gue memulai hal itu. Gue pun akhirnya berhenti nulis resolusi tahun baru sewaktu kuliah. Ngerasa udah nggak penting lagi, karena apapun yang gue tulis kayaknya nggak pernah tercapai.

Sekarang setelah gue pikir-pikir lagi, ya jelas aja nggak bakal tercapai. Semua resolusi tahun baru gue waktu itu bener-bener abstrak. Nggak jelas, nggak konkret, dan nggak ada rencana nyata buat ngewujudin semua resolusi yang gue pengenin.

Jadi cewek yang berprestasi? Prestasi macam apa yang gue mau aja nggak jelas. Definisi gue tentang prestasi terlalu luas, nggak ada prestasi spesifik yang gue sebutin. Jadi gimana gue mau ngewujudinnya kalo gue sendiri aja nggak tau apa yang gue mau.

Harusnya, gue dulu bisa bikin resolusi yang terukur sama kemampuan dan kemauan diri gue juga. Misalnya, sebelumnya nggak pernah masuk ranking 10 besar, mungkin gue bisa menargetkan supaya di tahun baru gue bisa ranking 9 atau 10. Caranya? Ya, perbaikin nilai-nilai mata pelajaran yang gue rasa lemah, seperti Matematika, IPA, dll. Lebih keliatan kan, apa yang gue mau dan gimana cara ngeraihnya?

Gue bersyukur karena sekarang udah berhenti bikin resolusi tahun baru. Soalnya, gue selalu berhenti mengejar resolusi gue setelah bulan Januari berlalu. Paling banter, gue masih peduli whatsoever dengan resolusi tahun baru sampai bulan Maret. Setelah itu? Nasibnya sama kayak judul novel karangan Margaret Mitchell. Gone with the wind.

Sekarang tiap kali gue pengen sesuatu, gue selalu bikin agenda yang jelas. Hal-hal yang nyata dan bisa gue raih dengan usaha dan niat yang dilipatgandakan dari biasanya. Pastinya dengan jangka waktu yang nggak terlalu lama dan nggak bikin gue bosen selama ngejalaninnya. Misalnya, resolusi, eh, target buat bikin blog gue jadi lebih keren dan lebih bermutu. Dalam jangka waktu kurang dari sebulan, gue pun mendaftarkan blog gue dengan domain dotcom dan ngubah layout temanya (butuh 3-4 kali perubahan sampai akhirnya gue pilih tema yang sekarang). Dengan begini, gue akan ngerasa semangat karena target yang gue bikin itu nyata, bisa diwujudkan, dan hasilnya bisa cepat dilihat.

Selagi menulis ini, gue sempet melihat ke layar TV. Seorang reporter wanita sedang bertanya ke beberapa orang yang berkerumun untuk menyambut tahun baru dengan petasan dan kembang api meriah.

“Mbak, ada resolusi apa di tahun baru ini?”

“Ada. Pastinya kepengen jadi orang yang lebih baik lagi, kerjaan lebih lancar, dan semoga segera diberikan jodoh untuk berkeluarga.”

Kasian. Mungkin dulunya dia kebanyakan baca majalah Gadis.

gif_pitygollum

Use Facebook to Comment

comments

4 comments

  1. E. Novia says:

    kalau dari dulu nulis resolusinya spesifik bisa jadi sekarang udah banyak yang terwujud, Mbak.
    Katanya apa yang kita raih saat ini adalah apa yang kita tuliskan di masa lampau. Katanya lagi secara tidak langsung apa yang tertulis itu masuk kedalam alam bawa sadar lalu berwujud jadi tindakan. Saya percaya hal itu, makanya masih suka nulis keinginan ataupun sering menvisualisasikan dalam khayalan mengenai apa yang ingin saya raih. Hehe

    Btw, kolom komentarnya agak sedikit kepotong, jadinya agak kesulitan untuk komentar pas awal, Mbak ^^

    • dearmarintan says:

      Hai, Novia 🙂 thanks udah baca dan komen di blog ini ya 🙂

      Ya memang benar apa yang kamu bilang. Kalau spesifik dan terukur, apapun yang kita mau pasti bisa diwujudin deh.. tapi aku udah ga pernah lagi bikin resolusi tahun baru.. mungkin kedengeran klise dan pesimis ya, tapi sebenernya nggak juga (at least menurut pandanganku, hahaha).. ya alasannya, seperti yang kutulis di atas.. karena aku ga pernah bisa bikin resolusi tahun baru jadi kenyataan.. palingan cuma semangat pas tahun baru aja.. seiring berjalannya waktu ya udah, ngilang deh tuh entah ke mana, hahahaha~

      anyway, kamu punya resolusi tahun baru apa nih?

  2. dWi says:

    Nah kan sama spt yg dibilang pak Mario Teguh dgn suratnya ke Tuhan….semua itu harus jelas ya termasuk resolusi kita 😀
    lastly…..Happy Welcoming 2014 *wink

Leave a Reply